Posted in Uncategorized

Dan aku hanya bisa bersyukur, menemani sedikit pikun dari semua urapan dalam kepala mereka.

Pada mereka, yang tak henti ku kagum pada segala pengorbanan. Keletihan satu tahun ia kristalkan dalam keberanian masa depan, walau letih sedikit mencair. 

Setidaknya kalian memberikan aku kesempatan melihat dan sedikit terlibat dalam urusan besar kalian, yang dulu aku juga lakukan. Membuat aku lebih hidup, sebab kalian meyakinkanku bahwa perjuangan itu akan aman di tangan kalian..

Selamat menikmati perjalanan…

Posted in Uncategorized

Memaksa Mengukur

Dalam setiap doa-doaku, terkadang aku terlalu lancang merencanakan. Padahal aku tahu bahwa perencanaan terbaik adalah milikNya, -yang dengan ikhtiar dan tawakal paling pantas- akan diberikan padaku, sebagai hambaNya.
Dia sudah mencipta jalannya, dengan perjalanan panjang yang juga Dia siapkan untuk ku jalani. Maka Dia melihat, apakah aku masih mau bertahan walau dengan ter-engah2, atau aku ternyata hanya cakap bicara?

Cakap meminta dalam doa, namun ternyata usaha hanya sia-sia. Sebab pekerjaanku tak sesuai dengan mimpiku, aku bermimpi untuk berjuang. Nyatanya aku hanya terlena, berjuang dengan caraku dan memaksa mengukur hasil dari usaha itu. Sedangkan Dia, menginginkanku berjuang dengan caraNya. Berprasangka baik padaNya, percaya pada skenarioNya, dan memperjuangkan apa saja.. Terlepas dari apa-apa yang aku paksa. Tersebab, tugas kita melakoni.. Sehingga berkah yang kuduga-duga menjadi jaminan selamatnya jiwa.

Posted in Uncategorized

Takbir ke-Enam

Beginilah rasa menikmatinya
Dalam buncahan rindu ter-ada
Mulai dari rindu jatuh bangun, membersamai rembasan hujan di jendela asrama
Pada rindu-rindu menggantung asa
Hingga pada rindu menekuk peka

Tersebab, pada semua yg diterima
Tak setetes-pun berbalas setara

Memasuki takbir ke-enam, semoga Dia tunjukkan jawaban atas segala doa. Memasangkan jiwa dalam naungan rahmatNya dan berkumpul dalam cinta yang bersahaja.

Rindu.
Area Depok-Kediri dan sekitarnya

Posted in Uncategorized

Driving: Who Am I

Orang lain bisa saja (merasa) mengenal kita, bahkan sangat bisa hanya dengan melihat apa yg kita lakukan. Tanpa kita
perlu mengatakan. Oh, mungkin itu judging…

Misal; seseorang bisa bilang si A ekstrovert, karena dia bisa ngobrol dengan siapa aja, kapan aja, baru ketemu, temenan lama, sama abang gojek, sama abang sate padang ataupun ibu-ibu abis belanja di angkot.
Meskipun, seseorang itu ga pernah berinteraksi langsung sama si A.

Orang lain bisa bilang si B kalau dia perfeksionis hanya karena lihat dia berdiri lebih lama cuma untuk menyamakan dan meluruskan ujung kain handuk, atau hanya karena dia selalu membenarkan pencetan odol ke arah ujung setelah digunakan oranglain. Sekalipun seseorang itu tak pernah kena sewot karena ga ngikutin cara si B.

Atau seseorang bilang si C baper karena suka tetiba left group, atau tetiba ngediemin tanpa bilang apa-apa.

Ya, terkadang pandangan mata terlalu cepat berkesimpulan. Tanpa meminta penjelasan. Di mana penjelasan inilah yang menjadi alasan why they do like that? Atau That’s why I do this, not like you say.

Sehingga pada beberapa kesempatan, mungkin kita sering berselisih pendapat dengan oranglain. Tersebab apa yg kita lakukan berbeda atau bertolak belakang dengan pendapat mereka. Pada hal yang sama-sama kita tahu tentang benar-salahnya. Meskipun setiap keputusan akhirnya tidak hanya berfokus pada hal itu, tapi pada bagian mana yang lebih kita prioritaskan dengan berbagai variabel yang berpengaruh.

Sebagai ilustrasi, pada sebuah perjalanan bersama orang-orang baru dan tempat yang baru. Beberapa diantara mereka masih meng-anggur-kan piring kotor bekas makan ketika waktu bersiap untuk pulang hampir habis, seorang tour leader membereskan beberapa hal yang tentu tidak semuanya bekas makanannya. Melihat hal itu aku dan salah satu teman bergegas membereskan piring kotor. Tak peduli teman2 berkata “ngapain sih, kan bukan kamu yg makan. Harusnya mereka yang cuci, kan mereka yang makan. Aku ga rela ngeliat kalian kaya gini!”.
Dengan singkat aku hanya bilang “Ya gapapa, daripada kak TL yg beresin. Ga enak sama dia”.
Meskipun akhirnya mereka meradang dan negur orang2 yg makan ga ngeberesin piringnya.
Mungkin sekilas mereka menganggap bahwa kita jangan mau diperalat, dan harusnya setiap orang bertanggungjawab pada apa yg sudah dilakukan.

Yes, i know. I strongly agree. But in that time, its not my priority.

Prioritas saat itu adalah gimana kami bertanggungjawab pada pemilik homestay untuk meninggalkannya dalam keadaan yang bersih, sama seperti pertama kami datang. So fokus kita memang beda, ga hanya ke anggota rombongan tapi ke pihak2 lain yang secara ga langsung berkaitan sama kita.

Ya itulah drive, hal yang mendorong kita melakukan hal ini dan bukan hal itu. Semakin kita mengikuti drive dalam diri, seperti itulah seseorang melihat kita. Seperti itulah orang lain melihat karakter kita. Sehingga, in my opinion hal semacam ini gabisa langsung di- judge bahwa keputusan kita salah. Asalkan ga berlebihan, tak melanggar norma dan disertai penjelasan 🙂

Posted in Uncategorized

Ingin menjadi yang TERBAIK di ANTARA ORANG LAIN adalah sebuah ke-tidak pasti-an, namun ingin menjadi yang TERBAIK dari DIRI SENDIRI adalah sebuah kepastian yang bisa diusahakan.

Maka, bergerak dan bersemangatlah. Bahkan gairahkan seluruhnya, agar yang Maha Kuasa menguasai setiap perjuangan tanpa berhenti memberikan keberkahan 🙂

Posted in UI Side

Bersambang

 

Wahai para warga UI, tentu kalian sangat kenal dengan tempat ini,bukan? Suatu ketika, saat kalian sudah sibuk dengan hiruk pikuk dunia pekerjaan, sesekali bersambanglah ke sini.Trust me, se’engga ada-nya’ urusan ke sini selain buat sholat, kamu pasti banyak menyimpan kenangan di sini. Setidaknya, kamu akan menemukan orang-orang atau spot-spot yang dulu pernah melintasi pikiran-pikiran. Bagi anak angkatan 2011, pasti pernah dong ngerasain ikutan berbuka dengan ta’jil MUI terus lanjut sholat tarawih yang masih dengan seragam putih-putih (red. masa OKK), yang setiap sujudnya berasa nelangsa karena rindu yang memuncak berbuka bersama keluarga, rindu jalan ke masjid bersama orangtua, sanak dan tetangga, atau rindu banget masakan ibu tapi mau ditangisin se-apapun ga kesampaian juga kecuali udah balik pas lebaran. Atau mungkin ingat ketika harus banget ngerjain tugas-tugas ospek sampe ngemper-ngemper. Ah masa mahasiswa baru….

Setidaknya bagi saya, Masjid di tempat saya belajar selalu tertanam nilai historis perjuangan, alah.. Hampir 5 tahun bernaung di kota Depok, this is one of the best place i found. Menyambanginya setidaknya memberikan sebuah kenikmatan, kerinduan, kenyamanan, keteduhan, dan ketenangan yang baru. Melihat para mahasiswa berhamburan beserta kain sarungnya yang dipasang dengan berjalan, para bapak-bapak yang sudah bersiap sejak sejam sebelum adzan berkumandang, para muslimah yang telebih dulu men-tag mukena, mereka yang sedang rapat di setiap sisi, ada yang mengkaji bahasa Arab, UI Mengaji dan segala aktivitas yang membersamainya membuat diri ini tidak lantas begitu saja abai. Dan kemudian melihat diri, “Hai! bersegeralah meminta agar selalu bertaut denganNya”.

Sebagaimana terbiasa tercegat seorang adik yang tetiba bertemu dan bercerita panjang lebar, sebagaimana terbiasa menyambanginya pagi sesiang, siang sesore, bahkan untuk mabit berjamaah, i’tikaf, menyendiri saat UTS-UAS, menyelesaikan urusan kampus nan mendadak, mengisi liqo, ter-isi liqo, dan sebagainya.

Setidaknya sesore ini, seluas pandangannya mengelupasi persiapan diri. Sudah H-59 Ramadhan euy! Bahkan baru semalam di kosan, sempat bertanya di mana pilihan tempat tarawih tahun ini. Dan ternyata, kawan dari luar UI-pun tetap mantap memilih MUI menjadi tempat favorit beribadah.

Semoga cukup me-recharge kepekaan hati (ntms). yang ceritanya lagi mengumpulkan kenangan sebelum benar-benar meninggalkannya dan tak sempat lagi atau terlupa menuliskannya.

Posted in Puisi, Renungan

Berkawan Buku

Adalah saat ku mulai lelah dengan kamu
Kamu yang setiap saat berdenting dan bergetar
Kamu yang seringkali berteriak menembus pintu
Kamu yang seringkali membuatku iri, sebab terus saja menghabisi waktu
Kamu yang terus menggerogoti pilu
Kamu yang masih saja memintaku berbicara, padahal pikiranku sedang kaku

Habis
Atau tak terganti

Karenanya, maaf kubiarkan menjadi rentetan getar menyulam bunyi
Dan menumpuk menghiasi
Walau sungguh, benar-benar tak rapi

Maka lelahku akan kembali, pasti.
Setelah buku membekukan kekakuanku.
Selepas sujud, selepas mengidungkan rindu, dan selepas membaca firman merdu

Karenanyalah buku kembali membakukan prinsipku
Kembali denganmu dan bercengkerama dengan syahdu.