Posted in Uncategorized

Kamu.

Biarkan aku meletakkanmu pada titik tengah. Antara harapan dan me-ridha-kan. Karena ada yang pasti berpendar dengan atau tanpa kamu yang masih semu.

Posted in Uncategorized

Hingga Sampai pada yang Memutuskan

Hari ini, adalah kali kedua saya menandatangani kontrak kerja selepas wisuda S1. 

Rasa yang sangat berbeda hingga sampai saat ini, keputusan yang tidak semudah biasanya. Jika di pekerjaan sebelumnya saya merasa ‘hampir’ semua yang saya harapkan Allah kabulkan dengan kemudahan-kemudahan. Dengan intensitas doa yang relatif sama, namun kali ini berbeda. Perjuangan dan penyelesaian konflik-konflik Batin yang luar biasa.

Jika sebelumnya, dekat dengan ibukota, saya bisa memilih Jenis pekerjaan seperti apa yang akan saya lamar, informasi begitu cepat menyebar dan bisa fokus memenuhi hati dengan harapan-harapan tanpa merasa stres atau frustasi yang berarti.

Lalu kini, sebuah keputusan untuk kembali pulang sekitar 3 bulan lalu terasa begitu sulit untuk dilalui. Berdiam diri dari yang biasanya penuh aktivitas membuat saya benar-benar merasa stres. Saya, yang cukup idealis dalam memutuskan banyak hal merasa terbentur dengan kondisi yang sangat berbeda dari sebelumnya. Di kampung saya, informasi amat minim, awalnya saya bisa memilih Jenis pekerjaan yang akan saya lamar, tapi nyatanya saya harus banting stir dengan melamar pekerjaan2 yang sesuai dengan kualifikasi ilmu saya (asalkan bukan pekerjaan administratif, nah kan masih idealis). Yaitu melamar di perusahaan2 yang memerlukan tenaga Lulusan Psikologi. 

Berbekal kepercayaan diri dengan ijazah S1 dari salah satu kampus terbaik, pengalaman kerja dan organisasi saya menyemai harapan2 baru meskipun dalam hati tetap tidak sreg.

Karena prinsip doa saya dalam hal pekerjaan, saya ingin bekerja berhadapan dengan manusia, membantunya.. Bukan hanya duduk di depan mesin Berlayar. Menjadikan ilmu saya bermanfaat, tidak menjadi budak waktu dan menjadikan pekerjaan adalah ibadah. 

‘alaa kulli hal Allah memudahkannya. Dia memberikan jawaban pada apa-apa yang sebenarnya menjadi pengharapan. 

Tentang bekerja sesuai passion atau tidak. Sejatinya dalam memutuskannya bukan perkara mudah. Kalau kata para motivator2, jangan menghabiskan waktu untuk bekerja yang tidak sesuai dengan passionmu. Lha kalau kasusnya kaya saya (dan banyak orang lain yang mengalami sama) ga ada Pilihan pekerjaan, terus kudu piye??

Nah di sini poin saya, bahwa dalam memutuskan sesuatu dengan segala pertimbangan, suka atau ga, sesuai atau ga, passion saya atau ga, prinsip saya atau ga. Sejatinya keputusan itu ada di tangan yang maha Memutuskan. Karena keputusan kita saat ini hanyalah sebuah hal yang “ter-logika” dalam urutan takdir kehidupan kita.

Sekeras apapun mengejar atau melepaskan, keimanan kita utuh dengan banyak sabar dan syukur. In syaa Allah ini adalah cara Nya mendekatkan kita pada mimpi2 yang di-acc dengan keridhoanNya 

#UpMyLife #Decision #AllahIsTheBestGuide #Ramadhan25th #1438H

Posted in Uncategorized

Rindu. Sangat rindu. Tapi biar Allah yang menerjemahkan.
Kediri,

Pada malam 1 Ramadhan 1438 H

Posted in Uncategorized

Malam Paling Emosional

Malam ini mungkin akan menjadi malam paling emosional sepanjang tahun 2017. Selepas senja, menjelang Mentari pertanda memasuki kalender 19 April 2017.

Bagi para pejuang di Jakarta. Ini akan menjadi malam paling emosional. Selepas melimpahkan lelah tangan kaki menjadi naskah-naskah doa paling kekal.

Bagi para pelaku utama di Jakarta. Ini akan menjadi malam paling emosional. Penghabisan tawakkal yang berubah menjadi garis-garis pasrah penuh harap. 

Bagi masyarakat Jakarta. Ini akan menjadi malam paling emosional. Pada satu ujung kesabaran, mereka masih menanti hasil akhir menanti ketenangan. 

Bagi kami yang urun doa. Akan jadi malam paling emosional pula. Sebab rasa satu mengarung hati yang satu. 

Semoga kehendakNya berpihak pada upaya jernih yang dihabiskan. Agar kami merasakan kembali nikmat keimanan pada janji yang tak pernah ingkar. 

#H-37R #MalamEmosional #Menjelang19April #Jakarta #SatuIndonesia

Posted in Uncategorized

Me-meringis-i Nasib Negeri

Negeri hari ini, di salah satu bagian wilayah kecilnya ada yang sedikit bahagia. Sebab mereka sedang menerima beberapa renteng sembako dari program pemerintah kota. Membuatnya sudah menetapkan pilihan pada Pilkada mendatang. 

Dengannya mereka merasa aman. Sedikit “lebih” sejahtera, sebab mereka menambah rasa percaya pada pemimpin yang menyentuh lembut kehidupan mereka.

Tapi di belahan bumi lain, pada pusat kota Negeri ini ada satu orang yang dikenal ber-integritas, dengan hilang adab beliau disiram wajahnya dengan air keras tepat setelah Sholat berjamaah di masjid oleh orang yang tak dikenal. Beliau Novel Baswedan, seorang penyidik senior KPK yang saat ini sedang menyidik kasus korupsi maha besar E-KTP yang baru terungkap akhir-akhir. Belum diketahui siapa yang melakukan, Jika memang dari para pihak yang “terancam” betapa nista hati yang sudah terlanjur keruh. Sehingga Demi Allah tak pantas untuk Memimpin Negeri ini. 

Sedangkan Negeri ini dibangun atas nama Allah yang dalam Pembukaan Undang-undang pun tercantum. Para peluang itu bahkan tangis dan darahnya sama sekali bukan untuk menyenangkan diri. Tapi untuk kesejahteraan masyarakat yang agung. Hidup selaras, makmur, adil sejahtera. 

Bahwa memang jika saja (pemimpin) Negeri ini sudah adil maka tidak akan pernah adanya kejahatan. Kejahatan hanya muncul karena ia merasa belum makmur, belum cukup. 

Tapi nyatanya banyak kedzoliman justru bukan datang dari orang sebagai korban ketidak-adilan. Mereka yang berlaku tidak adil menambah-nambah dengan kedzoliman yang bahkan direncanakan atas nama kekuasaan. 

Dari seorang warga negara muda, setidaknya dengan menulis ia menuang pikiran tersebab ia terlalu malu jika berada pada selemah-lemahnya iman. Semoga kamu juga.

#Negeri #H-45R 

Posted in Uncategorized

Malam Minggu

Menjelang H-min-Empat puluh Delapan Ramadhan tahun ini.

Tepat di Malam Minggu, bagi mereka yang berdua mungkin sedang beradu. Mendekatkan kepala, merona harapan; menjahit masa depan atau saling menopang untuk menguat di amanah terlentang. 

Sedang bagi yang masih satu. Malam Minggu adalah pelampiasan membangun rindu. Kepada keputusan diujung syahdu. Terhadap doa-doa yang menggantung sayu. Setidaknya, tersampai rindu pada doa-doa yang kan terulum, pada tilawah-tilawah yang kan tertegun, hingga tiba malam yang tak ada bedanya dengan siang. Sekitar Empat puluh Delapan malam lagi. 

Posted in Uncategorized

Dan aku hanya bisa bersyukur, menemani sedikit pikun dari semua urapan dalam kepala mereka.

Pada mereka, yang tak henti ku kagum pada segala pengorbanan. Keletihan satu tahun ia kristalkan dalam keberanian masa depan, walau letih sedikit mencair. 

Setidaknya kalian memberikan aku kesempatan melihat dan sedikit terlibat dalam urusan besar kalian, yang dulu aku juga lakukan. Membuat aku lebih hidup, sebab kalian meyakinkanku bahwa perjuangan itu akan aman di tangan kalian..

Selamat menikmati perjalanan…

Posted in Uncategorized

Memaksa Mengukur

Dalam setiap doa-doaku, terkadang aku terlalu lancang merencanakan. Padahal aku tahu bahwa perencanaan terbaik adalah milikNya, -yang dengan ikhtiar dan tawakal paling pantas- akan diberikan padaku, sebagai hambaNya.
Dia sudah mencipta jalannya, dengan perjalanan panjang yang juga Dia siapkan untuk ku jalani. Maka Dia melihat, apakah aku masih mau bertahan walau dengan ter-engah2, atau aku ternyata hanya cakap bicara?

Cakap meminta dalam doa, namun ternyata usaha hanya sia-sia. Sebab pekerjaanku tak sesuai dengan mimpiku, aku bermimpi untuk berjuang. Nyatanya aku hanya terlena, berjuang dengan caraku dan memaksa mengukur hasil dari usaha itu. Sedangkan Dia, menginginkanku berjuang dengan caraNya. Berprasangka baik padaNya, percaya pada skenarioNya, dan memperjuangkan apa saja.. Terlepas dari apa-apa yang aku paksa. Tersebab, tugas kita melakoni.. Sehingga berkah yang kuduga-duga menjadi jaminan selamatnya jiwa.

Posted in Uncategorized

Takbir ke-Enam

Beginilah rasa menikmatinya
Dalam buncahan rindu ter-ada
Mulai dari rindu jatuh bangun, membersamai rembasan hujan di jendela asrama
Pada rindu-rindu menggantung asa
Hingga pada rindu menekuk peka

Tersebab, pada semua yg diterima
Tak setetes-pun berbalas setara

Memasuki takbir ke-enam, semoga Dia tunjukkan jawaban atas segala doa. Memasangkan jiwa dalam naungan rahmatNya dan berkumpul dalam cinta yang bersahaja.

Rindu.
Area Depok-Kediri dan sekitarnya

Posted in Uncategorized

Driving: Who Am I

Orang lain bisa saja (merasa) mengenal kita, bahkan sangat bisa hanya dengan melihat apa yg kita lakukan. Tanpa kita
perlu mengatakan. Oh, mungkin itu judging…

Misal; seseorang bisa bilang si A ekstrovert, karena dia bisa ngobrol dengan siapa aja, kapan aja, baru ketemu, temenan lama, sama abang gojek, sama abang sate padang ataupun ibu-ibu abis belanja di angkot.
Meskipun, seseorang itu ga pernah berinteraksi langsung sama si A.

Orang lain bisa bilang si B kalau dia perfeksionis hanya karena lihat dia berdiri lebih lama cuma untuk menyamakan dan meluruskan ujung kain handuk, atau hanya karena dia selalu membenarkan pencetan odol ke arah ujung setelah digunakan oranglain. Sekalipun seseorang itu tak pernah kena sewot karena ga ngikutin cara si B.

Atau seseorang bilang si C baper karena suka tetiba left group, atau tetiba ngediemin tanpa bilang apa-apa.

Ya, terkadang pandangan mata terlalu cepat berkesimpulan. Tanpa meminta penjelasan. Di mana penjelasan inilah yang menjadi alasan why they do like that? Atau That’s why I do this, not like you say.

Sehingga pada beberapa kesempatan, mungkin kita sering berselisih pendapat dengan oranglain. Tersebab apa yg kita lakukan berbeda atau bertolak belakang dengan pendapat mereka. Pada hal yang sama-sama kita tahu tentang benar-salahnya. Meskipun setiap keputusan akhirnya tidak hanya berfokus pada hal itu, tapi pada bagian mana yang lebih kita prioritaskan dengan berbagai variabel yang berpengaruh.

Sebagai ilustrasi, pada sebuah perjalanan bersama orang-orang baru dan tempat yang baru. Beberapa diantara mereka masih meng-anggur-kan piring kotor bekas makan ketika waktu bersiap untuk pulang hampir habis, seorang tour leader membereskan beberapa hal yang tentu tidak semuanya bekas makanannya. Melihat hal itu aku dan salah satu teman bergegas membereskan piring kotor. Tak peduli teman2 berkata “ngapain sih, kan bukan kamu yg makan. Harusnya mereka yang cuci, kan mereka yang makan. Aku ga rela ngeliat kalian kaya gini!”.
Dengan singkat aku hanya bilang “Ya gapapa, daripada kak TL yg beresin. Ga enak sama dia”.
Meskipun akhirnya mereka meradang dan negur orang2 yg makan ga ngeberesin piringnya.
Mungkin sekilas mereka menganggap bahwa kita jangan mau diperalat, dan harusnya setiap orang bertanggungjawab pada apa yg sudah dilakukan.

Yes, i know. I strongly agree. But in that time, its not my priority.

Prioritas saat itu adalah gimana kami bertanggungjawab pada pemilik homestay untuk meninggalkannya dalam keadaan yang bersih, sama seperti pertama kami datang. So fokus kita memang beda, ga hanya ke anggota rombongan tapi ke pihak2 lain yang secara ga langsung berkaitan sama kita.

Ya itulah drive, hal yang mendorong kita melakukan hal ini dan bukan hal itu. Semakin kita mengikuti drive dalam diri, seperti itulah seseorang melihat kita. Seperti itulah orang lain melihat karakter kita. Sehingga, in my opinion hal semacam ini gabisa langsung di- judge bahwa keputusan kita salah. Asalkan ga berlebihan, tak melanggar norma dan disertai penjelasan 🙂