Posted in Ketukan Hati, Renungan

Peringatan Terindah

(Setelah sebelumnya posting agak melow) Bismillah, kali ini semoga lebih berfaedah hehe

Setelah Aisyah, putrinya difitnah dengan cara paling buruk oleh orang bernama Mistah. Orang tersebut adalah sepupu Abu Bakar yang telah didukung secara finansial olehnya. 

Tentu bisa dimaklumi jika Abu Bakar menangguhkan amal yang diberikannya kepada si pemfitnah. Lalu tak lama Allah menurunkan ayat “Dan janganlah orang-orang yang memiliki kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabatnya, orang-orang yang miskin dan orang-orang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. An Nuur: 22)

Ketika mendengar ayat ini, Abu Bakar memutuskan bahwa ia menginginkan ampunan dari Allah. Ia tidak hanya terus menerus menyedekahi orang ini. Ia bahkan memberinya lebih. (dinukil dari buku Reclaim your Heart, Yasmin Mogahed)

Sudah pada posisi manakah kita? Maka ya Rabb, lembutkan lembutkan lembutkan hati kami agar mudah menerima kebenaran dari Mu 

Advertisements
Posted in Hikmah, Renungan

Respect

Respect to time, people and system! I think the concept of respect is not as simple as the jargon. 

***

Ketika kamu meminta sesuatu pada orang lain, dan orang tersebut mencoba mengusahakan bahkan merelakan kesempatan (besar) lainnya untuk memenangkan keinginanmu di atas keinginannya . Ternyata kamu hanya berkata “Oh.. Aku kira bla bla bla” dengan pandangan sinis ke-skeptis-anmu padanya, seolah-olah orang tersebut sudah melakukan banyaaaak sekali hal yg kamu eskpektasikan dan kamu mengira “Oh cuma begini doang!”

Even tanpa kata maaf. Is that respect like you always sounding? Bahkan kamu tidak sedikitpun memedulikan berapa waktu yang dikorbankan, bagaimana dia mengatur perasaan juga bagaimana ia menenangkan orang lain yg ikut gusar (yang tanpa sadar kau paksa ikut pada pusaran keinginanmu). Apa pedulimu pada apa yang sudah dia rencanakan. Bisa jadi ia berkorban kesempatan bertemu dengan teman2 terbaiknya, ia berkorban merasa dicurigai oleh kawannya yang lain karena dia lebih mementingkanmu.

Jadi Respect bukan sekedar melihat pengorbanan orang lain dari kaca matamu. Tapi mungkin apa yang dia lepaskan jauh lebih bermakna dari apa yang kamu bayangkan. Sebab kamu tak kan pernah menjadi dia. Ketika dia sudah sering kali kau kecewakan. Masihkah mekar penghormatan dalam hati kecilnya? 
#Renungan #Hikmah #ntms #H-47R

Posted in Puisi, Renungan

Berkawan Buku

Adalah saat ku mulai lelah dengan kamu
Kamu yang setiap saat berdenting dan bergetar
Kamu yang seringkali berteriak menembus pintu
Kamu yang seringkali membuatku iri, sebab terus saja menghabisi waktu
Kamu yang terus menggerogoti pilu
Kamu yang masih saja memintaku berbicara, padahal pikiranku sedang kaku

Habis
Atau tak terganti

Karenanya, maaf kubiarkan menjadi rentetan getar menyulam bunyi
Dan menumpuk menghiasi
Walau sungguh, benar-benar tak rapi

Maka lelahku akan kembali, pasti.
Setelah buku membekukan kekakuanku.
Selepas sujud, selepas mengidungkan rindu, dan selepas membaca firman merdu

Karenanyalah buku kembali membakukan prinsipku
Kembali denganmu dan bercengkerama dengan syahdu.

Posted in Renungan

Waktu (1): Apa Manfaatmu pada Waktu?

image

Apakah kita terlalu agung dari semua kebenaran?
Sehingga waktu hanya pelengkap jiwa yang sombong, menghabiskannya hanya sebagai syarat wajah ego yang reot!

Lalu lupa, bagaimana Tuhan menyibukkan diri. Sedangkan manusia, menghabisi kenikmatannya tanpa rasa berdosa.

Satunya, waktu yang tak pernah kembali bermula. Dari titik dan detik pertama ia dicampakkan.

Kewajiban yang utama bagi seorang Muslim terhadap waktu adalah MENJAGANYA sebagaimana ia menjaga hartanya, bahkan HARUS LEBIH dari itu. Kemudian ia harus dapat MENGAMBIL MANFAAT dari waktunya untuk kepentingan diri dan dunianya serta untuk kebaikan dan kebahagiaan umatnya dalam mencapai pembangunan seutuhnya, baik moril maupun materil.

DR. Yusuf Al-Qardhawi dalam bukuĀ Waktu dalam Kehidupan Muslim

Depok, penghujung malam 29 Januari 2016

Posted in Renungan

Judul Mimpi: Berjuang

Percaya atau tidak, dulu ketika kelas 12 saya bermimpi untuk BERJUANG. Bukan bermimpi kuliah IP tinggi, lulus cepet, dapet kerja mentereng, dan penghasilan melimpah, punya banyak temen asik-asikan, ketemu sama orang terkenal, untung2 bisa terbang ke luar negeri, dsb.

Dulu, hampir di setiap malam…
Seselesai menutup modul latihan UN dan SNMPTN, aku kembali menggelar sajadah. Ya, sekitar pukul 02.00-02.45. Rasanya nikmat aja, dan selalu paling nikmat ketika memvisualisasikan ini…

image

Setelah itu, bayangan langsung merenda pada aktivitas setiap pagi, setor hafalan bareng di kontrakan, piket dan masak bareng, makan sederhana bareng, kehujanan, pergi ngajar naik sepeda, rapat syuro dan ngisi liqo, pulang ke asrama atau kosan dalam kondisi berlelah-lelah..

Yang aku tahu hanya, itu nikmat!

Meskipun tak semua akhirnya terealisasi, tapi naskah Allah jauh lebih hebat. Justru dari proses berjuang itu aku dikenalkan lebih dahulu dengan kedewasaan, diakrabkan lebih dekat dengan kejujuran, dan direkatkan lebih erat dengan kekuatan.

Karena, pekerjaan, nilai, dan pandangan orang lain itu hanyalah bonus. Hanya akibat. Terus yg menjadi sebab??

PERJUANGAN itulah sebab.
Karena aku, lebih bahagia menjadi sebab.

Karena bersyukur bermula dari sebab. Karena ikhlas berawal dari hati yang dipaksa sakit, dan bahagia berawal dari terbiasa mengurai rumit.

Dan, hujan sore ini. Sebentuk saksi, sebagaimana seperti 4.5 tahun lalu mengawali hidup di sini.
Sehingga, setiap ingin mengakhiri setiap perjuangan. Allah hadirkan perjuangan-perjuangan lainnya.

Bahkan hingga hari ini, ketika doa mulai lancang meminta. Lalu Allah dengan lembutnya mengingatkan, “sudah pantaskah kamu mendapatkannya?”

Dan Rabb, bantu hamba untuk lebih mudah memperbaiki diri. Bantu hamba untuk lebih ringan dalam berjuang. Karena setiap berjuang ada masanya, dan setiap masa ada perjuangannya.