Posted in Ketukan Hati, Renungan

Peringatan Terindah

(Setelah sebelumnya posting agak melow) Bismillah, kali ini semoga lebih berfaedah hehe

Setelah Aisyah, putrinya difitnah dengan cara paling buruk oleh orang bernama Mistah. Orang tersebut adalah sepupu Abu Bakar yang telah didukung secara finansial olehnya. 

Tentu bisa dimaklumi jika Abu Bakar menangguhkan amal yang diberikannya kepada si pemfitnah. Lalu tak lama Allah menurunkan ayat “Dan janganlah orang-orang yang memiliki kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabatnya, orang-orang yang miskin dan orang-orang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. An Nuur: 22)

Ketika mendengar ayat ini, Abu Bakar memutuskan bahwa ia menginginkan ampunan dari Allah. Ia tidak hanya terus menerus menyedekahi orang ini. Ia bahkan memberinya lebih. (dinukil dari buku Reclaim your Heart, Yasmin Mogahed)

Sudah pada posisi manakah kita? Maka ya Rabb, lembutkan lembutkan lembutkan hati kami agar mudah menerima kebenaran dari Mu 

Advertisements
Posted in Ketukan Hati, untuk Islam

Riyadhah Bathin 

Sebuah frasa yang disadur dari salah satu kajian Ust Hanan Attaqi, Lc.. Riyadhah Batin, mengingatkan kembali pada satu episode paling emosional di sepanjang tahun 2014. Bersama orang-orang dalam potret di atas. Salah satu pesan paling melegenda dari abang komandan saat itu adalah “menjadi seorang qiyadah memiliki kewajiban untuk jadi orang paling memahami, paling mengerti pada para jundi-nya. Sedangkan mereka tidak berkewajiban jadi orang paling memahami kita. Dengan demikian dekat dengan Allah menjadi sebuah kebutuhan paling utama”. Kira-kira demikian, sebab kita yang seharusnya banyak mendengar keluh kesah mereka, tentu tidak tepat untuk menumpahkan keluh kita pada mereka. Tak ada Pilihan lebih baik kecuali mendekat, mengadu dan merintih hanya kepadaNya.

Rasanya lebih mudah kita memutaba’ahi kapan terakhir riyadhah jasad, olahraga mengeluarkan keringat. Atau mungkin terwakili dari kucuran keringat tersebab bekerja. Tentu masih menjadi sahabat sehari-hari akan keletihan setelah mencuci, mengepel, menyiapkan makanan dan mengasuh anak bagi wanita rumah tangga. Yang berhilir pada kuatnya raga dan berujung ucap syukur pada Nya.

Lalu, masihkah kita ingat. Kapan terakhir menangis saat mengasah latih hati. Kapan terakhir basah saat sholat dan Tilawah, kapan terakhir menggugu saat mengangkat tangan seraya meminta padu. Jika mengingat itu menjadi pekerjaan paling sulit saat ini. 

Lalu dengan cara apa Allah memasukkan mahabbah dalam hati kita. Dengan cara apa Allah mengenalkan kecintaanNya yang besar dalam dada kita. Dengan cara apalagi Allah menghujamkan sabar dan syukur menjadi akhlaq kita?

Sebab Allah begitu senang hambaNya meminta ampun padaNya. 

#H-36R #MengasahHati #Istighfar #Istighfar #Istighfar #Istighfar #Istighfar #Terooooossssssss