Posted in Cerita-ku dan -kita

Kangen Depok

Ini adalah hari ke 43 setelah menepati keputusan untuk tidak kembali merantau. Artinya menetap di rumah, bersama dengan keluarga biologis dan sebagian ideologis. Melepas segala hal yang Allah titipkan untuk digantungkan pada pigura kenangan dan doa malam. Hari-hari yang masih aku pasrahkan pada ketetapanNya, yang hingga hari ini tugasku adalah meminta dan berharap pada Dzat yang maha memiliki. 

Tentu bukan keadaan mudah untuk melewati dan memutuskan ini. Tapi aku percaya bahwa aku tak boleh tak percaya. 

Siang ini, Mendapat telepon dari sahabat2 kantor di Depok. Banyak hal yang kulewatkan banyak hal yang belum tersampaikan banyak cerita yang masih mengambang. 

Yaa Allah.. Menambah rindu, satu kondisi yang harus banyak – banyak kusyukuri. Aku masih bisa menikmati kudapan ukhuwah. 

Tak lama, aku tertidur.. Mimpi yang sepertinya ini buah dari kerinduan pada Depok yang mengendap di otak bawah sadar. Bermimpi ketemu abang Thu**** lagi jalan2 sama anak2 kelas 3 Lentera di depan rumah (lha yo mosok dari Depok ke Kediri, namanya juga mimpi). Aku panggil2 dia dan dia datang terus kami berpelukan, dia nangis dan gamau pisah. Abang ini salah satu anak yang aku handle di klinik. Anaknya cakep, unik banget dan punya obsesi sama alat elektronik dan otomotif. Udah sayaaaaaang banget sama mereka, yg disayang mah banyak banget (semua anak yang dihandle) tapi gatau kenapa yang muncul abang.

Mulai kerasa kangennya. Banyak yang hilang, harus memulai kebiasaan baru. Menemukan hal2 yang ga biasa dilihat. Harus menyesuaikan diri lagi. Tapi lagi-lagi Allah punya hal yang lebih indaaaah yang lagi dipersiapkan dengan segala kebaikanNya. 

Dan kerinduan pada Depok yang akan sangat terasa adalah nuansa Ramadhannya. Fastabiqulkhairat-nya, kangen MUI yang belum nemu nikmatnya di sini, merdunya suara Imam, khusyu’nya qunut di i’tikaf 10 hari terakhir, bareng2nya tarawih sama anak kosan, saling kebut Tilawah sama temen kantor, masak bareng buka sahur dan segala aksesoris potret hidup yang lainnya.

In syaa Allah tidak mengurangi kualitas Ramadhan tahun ini yang hanya kurang 39 hari lagi. 

#H-39R #Depok #Kenangan

Advertisements
Posted in Cerita-ku dan -kita, untuk Islam

Bekerja yang ‘Tidak Hanya’

image
Foto, doc http://dalamframe.blogspot.co.id

Bagi sebagian orang, selepas menerima ijazah yang bergelar…
Mendapatkan pekerjaan adalah salah satu doa terkeras yang terhampar dalam sujud-sujud malam.

Termasuk saya,

bukan untuk sekedar ‘mendapatkan rezeki’, tapi adalah sebentuk tanggung jawab seorang manusia dewasa, seorang anak pertama, seorang yang terdidik mandiri oleh agama dan orangtuanya. Tentu sebagai upaya memenuhi salah satu muwashafatnya.

Qadirun ala kasbi

Bekerja hanyalah SALAH SATU upaya mendekatkan rezeki, BUKAN mendatangkan rezeki. Karena Allah-lah yang menurunkannya.

Bekerja, juga adalah tetap bermakna cara. Cara yang berbeda tentang berdakwah (menebar kebaikan) dengan di kampus dulunya. Sehingga, doa-doa yg terungkap menjadi bulir2 air mata karena kesungguhan pun akan menuntunnya.

Saat bekerja mau apa?

Tanggung jawab dibaliknya yang harus dipertemukan dengan jalan surga. Mengabdi kepada Allah azza wajalla.

Karenanya, percayalah rezeki itu akan mengikuti, kalau Allah Ridha 🙂

Kalau dihitung2, gajiku ga cukup untuk kebutuhan ini itu. Biaya kos, uang makan, biaya ke dokter gigi dan kulit sekian dan sekian, biaya setoran TV, dll. Karena rezeki itu TIDAK SELALU BERBENTUK UANG!
Tapi Allah selalu cukupkan, in syaa Allah rezekinya berkah dan asal ga pelit2 buat sedekah

–Sharing dari tetangga kamar. Betul juga, tak perlu kita khawatir atas pembagian rezeki di sisi Allah.

Justru yang perlu kita khawatirkan adalah,
seberapa porsi diri kita untuk Allah? Apakah selewatnya saja, jika ingat saja, separuh saja,

atau seluruhnya?
Dengan meniatkan segala untuk beribadah dan meraup ridhoNya?
Setelah bekerja, patutkah semakin lemah berurusan dengan Allah! Padahal sepanjang waktu Dia berada dalam kesibukan (QS. Ar Rahman:29)

Bekerja penuh waktu, paruh waktu, bekerja di perusahaan dengan gaji selangit adalah pilihan.

Tapi bekerja karena, untuk, dan bersama Allah adalah pekerjaan sesungguhnya.

Itulah bekerja yang tidak hanya. Tidak hanya mencari uang, tidak hanya mencari link, tidak hanya bermain peran, tidak hanya jaga gengsi.

Tetapi mencari hati yang basah. Basah akan keimanan. Karenanya, bekerja tidak hanya mengeksploitasi potensi. Bekerja akan membangun pondasi. Membuka kontribusi. Serta memeluk hati untuk introspeksi.

Basahnya iman
ikhlasnya hati
lembutnya lisan
luwesnya kelakuan
merunduknya ke-tawadhu-an
renyahnya sapaan
merdunya Tilawah AlQur’an
luar biasanya jalan perjuangan
terasa semua begitu mengesankan

….adalah tanda bahwa Allah juga melimpahkan ki-tidak hanya-annya saja. Dia melampauimu memberikan segala kebutuhan untuk menjagamu. Bahkan yang tak pernah terucap.

Apapun pekerjaanmu

Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah [9]: 105)

Posted in Cerita-ku dan -kita, Psikologi

Di : Hari Sabtu, Jam Terakhir

Seperti biasa, hari Sabtu di jam terakhir. Ketika sekolah libur, dan seringkali banyak bunda yang meminta izin untuk ananda tak bisa datang. Tapi tak serupa dengan seorang ananda, seorang yang selalu berteriak ‘bundaaaaa’ sambil tertawa lebar menyambutku yang tengah rehat di ruang sensori integrasi.

****

Seselesai jam pertamanya menjelang usai. Hampir selalu ia keluar dengan air yang masih basah menjatuhi dr mata yang masih merah.
Tapi tak mengurangi antusiasme nya menyambut kelas terakhir.

“Tadi Abang kenapa nangis?”
Seringkali pertanyaan itu mengawali kelas kami. Dan kemudian dia bercerita kemudian kami saling bersepakat.

Kelas pun mengalir dengan segar.

****

“Yuk, kita menyanyi!”, Ajakku

Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik
Tuhan pasti kan menunjukkan kebesaran dan kuasaNya
Bagi hambaNya yang tak sempurna

“…yang sabar dan tak pernah putus asa, Bang!”
Sahutku dengan uluman senyum.

“Tadi Abang nyanyi itu sama Ayah di mobil”

“Wah hebat, Abang bisa nyanyi itu. Yuk nyanyi bareng sama bu Suci!”

…..Tak ada manusia, yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali segala yang telah terjadi
Kita pasti pernah hadapi cobaan yang berat
Seakan hidup ini tak ada artinya lagi

Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik
Tuhan pasti kan yang menunjukkan kebesaran dan kuasaNya
Bagi HambaNya yang sabar dan tak pernah putus asa

****

Masya Allah, Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Menahan air mata meretas dari dalam. Sesak. Kamu tahu kan bagaimana rasanya?

Seorang dengan brain injury, yang saya yakin tak cukup sedikit orang yang pernah membicarakannya. Entah dengan perspektif positif maupun negatif. Tepat di hadapan mata kita, kemudian ia mengulumkan lirik dan nada serupa dengan lengkungan tawa. Bukan kesedihan, sama sekali.

Tapi pasti kah menangkap makna dan isi jiwanya.

Lalu, masih pantas merasa menjadi manusia paling terpuruk sedunia?

Posted in Cerita-ku dan -kita, Puisi, untuk Islam

Senjaku Berakhir Bersamamu

images

 

Aku tak terpikir apa, warna senja saat masih pagi. Kudalami saja perjalanan hati bersama langkah kaki yang terus saja menyusuri lorong-lorong kampus tua itu. Sudah lama tak ku dalami suasananya. Mulai banyak orang asing yang berseragam kuning, jakun ! Ah, sebenarnya sudah tiga kali hal ini terjadi. Pertanda waktuku sudah tak lama lagi menyelesaikan diri. Setidaknya, aku harus memiliki cerita saat pulang untuk mengakhiri senja.

Dan sejak hari ini, saat kamu menjatuhkan tubuh dipundakku. Aku semakin tegas menyeka keresahan yang masih tersisa tadi malam. Saat kamu bilang sambil tersenyum, “Kak setelah pencarian panjang ini aku punya mimpi, aku mau bikin Islam itu bangkit lebih baik lagi”. Kuperhatikan, wajahmu sedikit memerah, bergabung dengan warna kerudung kuning, maka timbul semburat jingga yang indah. Seindah bagaimana perasaanku saat mendengarkan mimpi tulus itu. Dan kuteliti lagi, memang benar penuh emosi saat kamu ucapkan berirama dengan serak suara dan mata kaca-kaca.

Dan adikku, walau baru setahun kita bertemu dan memilin waktu sungguh telah kutemukan satu garis sama dalam pikiran kita. Bahkan ketika senja akhirnya terlewati dan menjingga karena senyum semangatmu, ketika kita sepakat bahwa PR kita masih banyak 🙂

Posted in Cerita-ku dan -kita, Puisi

Seikat Rasa untuk Saudara

 

 

Kau pinjamkan aku telinga

Telinga yang senantiasa terbuka untuk ceritaku,

Senduku…

Telingakupun ku simpan sampai bertemu dirimu

Karena ku tahu, hanya telinga yang sanggup ku gadai dalam persaudaraan kita

 

Kau pinjamkan aku mata

Yang dengannya, pandangan tak ada semu maya

Yang ada, hanya mata yang menceritakan semua doa

Tanpa sisa

Seperti saat kurapikan mataku, untuk bertemu dirimu

Dengan pandang cinta, dalam persaudaraan kita

 

Sekali lagi kau pinjamkan aku bibir

Yang dengannya tak pernah kudengar kasarnya kau mencibir

Justru berdzikir

Ah kamu, izinkanlah pula kudekatkan bibir

Pada hatimu yang senantiasa kebaikannya terlahir

 

Sepertinya hanya satu yang tak bisa aku ataupun kamu pinjam

Ya, tentang rindu..

Rindu yang terenda di sepertiga malam

Rindu yang melemahkan sombong

Dan menguatkan cinta

Rindu yang melemahkan ragu

Dan menguatkan ikhlas

 

Maka tanggalkan sejenak jika ada air matamu

Dalam bahuku

Lepaskan sejenak kesahmu

Dan simpan dalam doaku

Kemudian bangun cinta dalam hati kita

 

Seikat rasa persaudaraan

Untuk saudara-saudariku yang senantiasa meminjamkan rasa

Maka izinkan aku menyumbangkan cinta terdalam dalam jiwamu

Posted in Cerita-ku dan -kita

5-6 Ramadhan : Mendidik Anak = Mendidik Diri Sendiri

Berawal dari azzam menuliskan segala buncah cerita selama bulan cinta Ramadhan, berharap Ridho menyelimuti. Menyiangi insane untuk meraup hikmah dari setiap sesuatu yang membuatnya terinspirasi…

 

Akhir dari pekan pertama magang di SKKM, sungguh kesyukuran Allah berikan kesempatan untuk menjala banyak logika. Di bangku kampus, hanya macam teori ala barat nan melelahkan mata. Maka tunduk kesyukuran mengidungkan jiwa menyuarakan bisik tasbih meneduhkan pandang dan menyejukkan telinga.

Well, hari itu adalah agenda Qur’an Nite pertama untuk anak-anak siswa SKKM. Mabit, yah macam agenda di kampus. Jika di kampus banyak melakukan konsolidasi atau tarbiyah diri. Maka, kerennya sekolah ini juga mentarbiyah anak-anak dari mereka kecil. Mirip. Mirip dengan agenda kita saat mabit. Masya Allah, saya benar-benar belajar “How to” di sini.

Selepas kegiatan sore dan ikrar, muraja’ah dimulai. Astaghfirullah, di sini mulai muka tersobek-sobek.  Jaman kecil gue dulu ngapain ? heuheu, anak-anak udah pada banyak hafalannya. Hhm,, setidaknya saya belajar bagaimana mentarbiyah anak sedini mungkin. Oke, pelajaran pertama.

Agenda hari itu adalah membagikan ta’jil yang telah dibawa anak-anak ke masyarakat sekitar. Di sini saya belajar kembali. Pelajaran kedua, anak-anak banyak yang malu untuk membagikan ta’jil ke masyarakat sekitar. Oke, jadi kita sebagai orang dewasa juga harus mendewasakan mereka dengan memberikan teladan yang baik. Yaitu tak boleh malu kalau mau berbuat kebaikan untuk orang lain.

Alhamdulillah hampir semua anak SD di SKKM sudah berpuasa, selepas sholat tarawih dan witir anak-anak dipersilakan untuk istirahat. Deuh anak-anak, pada masih rempong dengan sleeping bag dan tempat masing-masing. Jadilah mereka baru tidur jam 00.30, begitupun juga saya. Padahal jam 01.30 semua harus sudah bangun untuk Qiyamul Lail berjama’ah di lapangan. Masya Allah, benar-benar tidak boleh ada tak tega dalam mendidik anak. Pelajaran ketiga.

Semua agenda bernafas Islam dan pendidikan. Tidak ada pembantahan, yang ada hanyalah konfirmasi ke anak untuk menyadari kesalahannya dan kemudian merubah perilakunya. Melatih anak menumbuhkan motivasi internal sejak kecil, bukan semata motivasi eksternal seperti yang biasa terjadi. Allahu Akbar ! Mulianya Islam..

Semangat mentarbiyah diri dan strategi mentarbiyah anak-anak kita 😀

Posted in Cerita-ku dan -kita

Ramadhan Hari Ke-1

Berawal dari azzam menuliskan segala buncah cerita selama bulan cinta Ramadhan, berharap Ridho menyelimuti. Menyiangi insane untuk meraup hikmah dari setiap sesuatu yang membuatnya terinspirasi…

 

                Ramadhan ini bermula saat malam menjelang 1 Ramadhan. Hari kedua ke tempat Magang di Sekolah Alam Kebon Maen menambah banyak kesyukuran menyangsang dalam sanubari. Kesyukuran bermula saat menyadari bahwa sekolah ini benar-benar menanmkan tentang konsep “mendidik” karakter yang tidak hanya kepada para siswa, namun kepada para guru. Saya pun menjadi anggota tim baru turut kecipratan mendulang banyak manfaat dari sekolah tersebut. Suasana tarbiyah sangat kental yang bersandar pada fastabiqul khoirot nan tulus dari lubuk hati.

                Sepulangnya adalah agenda melipatkan diri dalam lingkarang bermakna pertama. Menuju Salemba, saya tertinggal dari rombongan yang berangkat dari Stasiun UI. Akhirnya saya berangkat seorang diri berteman murattal di perjalanan menuju Salemba. Alhamdulillah lancar hingga sampai di Stasiun Cikini. Namun ada sesuatu yang sedari tadi mengganggu konsentrasi perut, haha karena memang sedari kemarin hanya sedikit sekali makan nasi. Okelah cari-cari makanan, seluas mata memandang dan akhirnya memutuskan menuju abang penjual nasi goreng, memesan sambil bertanya kopaja apa yang ke arah Salemba. Pesanan selesai, aku berjalan beberapa langkah dan menemukan sebuah kursi plastik kosong tepat berada di depan tempat semacam posko Jokowi-JK, dengan kondisi kumuh dan agak bau, aku mengamati sekeliling. Aku hanya berpikir bahwa tempat ini sepertinya memang kosong, mana ada orang yang tinggal di tempat tersebut. Sambil mengisi hati dan pikiran, agak was-was sebenarnya karena khawatir diusir lagi seperti di terminal Pasar Senen waktu itu. Tetiba seorang nenek datang dengan baik hati menyapa, berkomunikasi sebentar dan bercerita. Beliau bilang bingung sahur dengan apa, akhirnya saya memberikan uang yang sudah ada di tangan untuk bayar kopaja tadinya. Beliau masih bertanya “nanti neng gimana bayar kopajanya?”, lanjut pada cerita selanjutnya beliau bilang bahwa sekarang sudah tidak tahu mau bekerja apa lagi, mau dagang juga sudah tidak punya apa-apa. Dahulu beliau merupakan salah seorang pedagang parcel di stasiun Cikini, beliau bilang karena digusur sama anak buah Jokowi sekarang jadi gabisa jualan. Sejujurnya dilema dalam diri mengalir dengan keras, ingin rasanya memberikan bungkusan nasi goring yang tadi sudah dibeli untuk si ibu, berharap ibu benar-benar akan puasa, karena sebenarnya sayapun masih agak ragu karena ibu tidak melaksanakan sholat tarawih karena pakaiannya kotor. Tapi yasudahlah harus husnudzon, dan mengingat pesan Aa Gym saat keamarin tausyiah di masjid UI tentang bersedekah. Oke beres nasi goreng sudah berpindah tangan dan tak lama kemudian kopaja pun datang.

                Maka sungguh nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan ? di jalan hanyalah berdzikir semoga sikap saya dibenarkan Allah dan diberikan kemudahan-kemudahan serta berharap ibu benar-benar makan sahur dan berpuasa.

                Singkat cerita saya segera menuju masjid Ar Rahman Hakim, UI Salemba untuk memenuhi undangan bersama teman-teman seperjuangan. Mulai melingkarkan diri dan berbincang ke sana ke mari untuk mendekatkan diri kembali, tentunya diawali dengan melemaskan hati sebelum dimulai. Suasana menghangat hingga pukul 02.30an bersama canda tawa dan senyum-senyum keikhlasan. Sesingkatnya lingkaran itu benar-benar memberikan makna yang berwarna. Menceritakan perjalanan hidup dari TK sampai saat ini, ada love sharing, serta pertunjukan kelucuan dedek-dedek yang sedang bermain, haha a.k.a dua orang sahabat kami yang lahir di tahun 1994 dan 1995 haha..

                Perjalanan berlabuh hingga ke Depok. Istirahat pun tertunaikan dan mendapat jawaban bahwa hari ini kita liqo mandiri dengan tugas menyusun target dan reward untuk pribadi dan kelompok selama Ramadhan ini. Yap.. beberapa targetan tambahan saya untuk tahun ini adalah menambah hafalan minimal 3 surat juz 29, meningkatkan quality time saat di rumah dan menuliskan semua aktivitas setiap hari untuk refleksi seperti yang saat ini saya tuliskan.

 

Selamat merayakan cinta 😀

Posted in Cerita-ku dan -kita

Re-Publish : Bahagia itu Sederhana

Yeps, Benul banget, eh betuuul banget maksudnya… 😀

Jadi keinget materi liqo’ terakhir kemarin sebelum liburan, menuju amal kebaikan itu ada banyak jalannya.. ga Cuma sholat, ngaji, tilawah, tahajjud, dakwah, menuntut ilmu, dll dah, but there’re many others way more (huduuuh, ga ngerti deh bahasa inggrisnya bener ato ga -,-). Sudah menjadi suatu plan besar dalam hidupku sejak sekitar 2 atau 3 bulan yang lalu, yaks liburan kali ini harus lebih bermakna dari hari-hari sebelumnya. Balik ke Kediri ga mau dong Cuma berkegiatan seputar tempat tidur dan depan TV, ah ga asyiik… ya boleh lah buat obat dari Depok setelah layu dikejar berbagai tugas kuliah, makan jurnal b.inggris tiap hari, eniwei.. balik lagi ngomongin jalan kebaikan, di waktu menjelang UAS kemarin sempet cerita dengan salah satu kawan, Midah dia dari Medan ternyata kita punya pikiran yang sama. Kita berdua pengin kasih kontribusi buat daerah kita masing-masing ! ya iyalah, gimana engga ?? kita anak UI man, kuliah di kampus rakyat, kampus yang nyandang nama negara masa iya lupa sama kampung kita sendiri. Kalo orang-orang yang pinter birokrasi dan ngarti masalah politik mereka bisa lah mengarungi jalan kebaikannya dengan aksi buat bukain telinga tuh para pejabat buat nengok kaum orang kecil, tapi kalo buat kita-kita yang kagak ngarti begituan Cuma bisa ngikutin info sekaligus sumbang doa aje.. kalo si Midah dia sampe cari komunitas orang-orang kampungnya di Jakarta bahkan hampir tiap pekan dia ke Bogor buat rapat dan berharap dapet temen yang bisa diajak berkontribusi di kampungnya, beda denganku.. semenjak punya pikiran buat bikin sesuatu di kampung halaman aku udah langsung kontak temen2 yang kira2 bisa bantu, posting aje lah di grup2 sobat-sobat yang masih nyambung,, dan Alhamdulillah sambutan dari temen2 baik, bahkan banyak di antara mereka yang udah kerja, kuliah juga, ataupun kerja+kuliah juga nyaut, Subhanallah.. semoga niat baik ini selalu terjaga untuk hati-hati kita, well.. mau kasih say to thanks dulu buat sobat2 yang udah mau bantu Rere, Lida, Eka, Yahya, dan yang bakal nyusul Fery + Mufid karena mereka masih pada UAS di Surabaya. Kemarin, 7 Januari 2013 akhirnya bisa juga langsung menyambangi barak penampungan di Semampir Kediri, yaps kita langsung ketemu sama bapak RTnya dan ngobrol lalalala,lililili yang intinya kita bakal ngisi kegiatan di tempat itu. Oke, jelasin dulu kali ya barak penampungan itu apaan, yaps barak penampungan itu jangan dikira barak2nya tentara yee, tempat ini ya semacam tempat yang disediain sama dinas Sosial kota Kediri buat nampung orang-orang yang diantara mereka ada yang kerjaannya mulung, dsb. Nah, kita mau konsen ke anak-anaknya aja nih, karena anak masih kecil yang masih bisa kita ubah mindset nya buat kedepannya tar mereka mau jadi apa. Alhamdulillahnya di sana udah ada bantuan juga dari suatu lembaga buat ngadain les gratis buat anak-anak, jadinya kita bakal fokus mau bikin taman baca + ngembangin softskill, minat bakat mereka sekaligus pengen ngajarin ngaji dan tata krama yang bagus aja ke mereka. Di akhir pas kita mau pulang, mereka pada dateng udah bawa-bawa buku tulis dan penuh semangat mau les.

“Kak, kita les kan hari ini ?”

“Yah dek, kita bukan kakak-kakak yang mau ngasih les kaya biasanya, ini kakaknya beda”

“oh,”, mereka berlalu sambil malu-malu, kemudian mereka datang kembali

“Katanya kakaknya tanggal 7 udah mulai les hari ini, katanya kita mau diajak liburan”

“hhhem, kalian udah pada bisa ngaji belum” tanya kami, dan mereka hanya nyengir

“kalian sukanya apa “

Sambil berebutan menjawab “aku suka melukis kak, menggambar, blablabla…”

“oke, kakak punya nih gambar dan crayon buat kalian ! “

“yeeee..yeeee” sambil ku keluarkan berbagai peralatan itu, mereka berebut menerima kertas2 itu, mukanya nampak senang sekali seperti kita sanat tahu apa yang mereka inginkan. Yah ini salaha satunya definisi kata BAHAGIA, ikut tersenyum saat orang lain bahagia, yuups mirip banget sama materi kuliah kemarin yaitu emphatic joy hypothesis. Well, dari sini kita sadar bahwa bahagia itu sederhana.

Oke hari ini well done, walau buat berangkat aja kita udah hampir 3 kali bolak-balik ambil motor dan kembali gara-gara hujan, Alhamdulillah Allah masihmeridhoi niat baik kami 🙂

“kakak besok kesini lagi ?”

“Iya. In syaa Allah “, sambil tersenyum ku lambaikan tangan.

Thanks guys, buat ngopi barengnya, diskusi barengnya, kedatangan, pikiran dan semuanya. In syaa Allah semoga ini berkah,

Oke tetap semangat buat hari esok, bersiap buat ke dinas sosial semoga lancar. Aamiin.. 🙂

Posted in Cerita-ku dan -kita

Belajar Nulis~

Image

Ketika Akhwat Rindu Menikah, So ? http://www.dakwatuna.com/2014/01/09/44567/ketika-akhwat-rindu-menikah-so/

Kamu = Hujan Dalam Mendungku
http://www.dakwatuna.com/2014/01/18/44966/kamu-hujan-dalam-mendungku/

Image

Keluarga Kecil nan Bahagia

http://www.dakwatuna.com/2014/01/21/45098/keluarga-kecil-nan-bahagia/

Image

Menggurui Aku

http://www.dakwatuna.com/2014/01/21/45100/menggurui-aku/

Image

Muhasabah Pagi

http://www.dakwatuna.com/2014/01/21/45099/muhasabah-pagi/

Image

Posted in Cerita-ku dan -kita

Katarsis Ala Mahasiswa

Katarsis itu apa sih ? Nah ini bahasa yang suka dipakai sama anak Psikologi yang maksudnya adalah suatu kegiatan untuk melepaskan emosi negatif yang menekan dan bergejolak dalam diri, singkatnya buat melepaskan ketegangan.. that’s the point ^^

Nah apa saja yang bisa dilakukan buat bisa katarsis ? ga harus mahal-mahal, ga harus pergi jauh-jauh kok, mau sekedar Cuma nonton film bareng temen-temen, sepedaan keliling kampus, ataupun baca buku juga jadi asalkan emang niatnya buat melepaskan ketegangan yang sedang dialami. Simpel kan ?

Oke, dalam konteks mahasiswa biasanya dalam kondisi apa sih seseorang melakukan katarsis ?

Yupz bener, beres Ujian Semester..

Bener banget, setelah Ujian di mana seluruh energi dikuras, otak diperas untuk mengerjakan segala bentuk soal-soal pedas dan tugas yang membeku keras, hffft…

Menonton film jadi salah satu pilihan saya kemarin, 19 Desember 2013 untuk melayangkan tujuan katarsis bersama adik-adik binaan.. 99 Cahaya di Langit Eropa jadi muara pilihan kami (tapi emang udah direncanain sejak lama sih)..

Perjalanan singkat itu sedikit demi sedikit membuka ketahuan saya tentang adik-adik binaan saya, dengannya saya jadi tahu apa yang harus bisa segera saya lakukan dan berikan untuk mereka *ah sayang mereka :-*

Banyak hikmah yang bisa kita ambil bersama, tentang bagaimana menjadi seorang agen Islam  yang baik (ini harus tertanam dalam pikiran mereka sebagai penerus penyampai Islam selanjutnya), tentang keteguhan prinsip berIslam, hingga galau yang menjadi ornamen pembicaraan kami..

Hhm, nampaknya kolaborasi antara film Habibie Ainun dan 99 Cahaya di Langit Eropa ini bisa jadi inspirator banget untuk membangun mimpi yang ga biasa-biasa aja, menjadi survival di negeri orang dengan misi yang berbeda-beda.. nasionalisme, menuntut ilmu dan agen Islam.. pun semuanya adalah perkara yang baik..

Selepasnya, rasa tegang mulai berkurang meski hari ini masih ada satu tugas UAS yang harus dikumpulkan.. it’s fine lah ya, udah dapet semcam kepuasan sederhana kemarin.. banyak hikmah yang bisa diambil, katarsis dapet, jalan-jalan dapet, foto-foto dapet, semakin dekat dengan adik-adik dapet, dan hikmah dari pesan film yang membuat hati bergetar juga mantep. Alhamdulillah..

Suatu saat nanti bisa kali ya, semoga Allah mengizinkan buat katarsis ke pusat peradaban Islam yang menginspirasi di Eropa Barat ketika Dark Ages, tempat berjuta-juta maha karya orang Muslim diabadikan.. sebagai bukti peradaban Islam yang Rahmatan lil Alamiin.. menerangi ilmu dan teknologi hingga sekarang.. Baitul Hikmah, Cordoba…