Posted in Uncategorized

Memaksa Mengukur

Dalam setiap doa-doaku, terkadang aku terlalu lancang merencanakan. Padahal aku tahu bahwa perencanaan terbaik adalah milikNya, -yang dengan ikhtiar dan tawakal paling pantas- akan diberikan padaku, sebagai hambaNya.
Dia sudah mencipta jalannya, dengan perjalanan panjang yang juga Dia siapkan untuk ku jalani. Maka Dia melihat, apakah aku masih mau bertahan walau dengan ter-engah2, atau aku ternyata hanya cakap bicara?

Cakap meminta dalam doa, namun ternyata usaha hanya sia-sia. Sebab pekerjaanku tak sesuai dengan mimpiku, aku bermimpi untuk berjuang. Nyatanya aku hanya terlena, berjuang dengan caraku dan memaksa mengukur hasil dari usaha itu. Sedangkan Dia, menginginkanku berjuang dengan caraNya. Berprasangka baik padaNya, percaya pada skenarioNya, dan memperjuangkan apa saja.. Terlepas dari apa-apa yang aku paksa. Tersebab, tugas kita melakoni.. Sehingga berkah yang kuduga-duga menjadi jaminan selamatnya jiwa.

Advertisements

Author:

Muslimah. Penikmat Hijau. Pembelajar dalam merawat hati dan menempa iman. Mencintai dunia pendidikan dan psikologi ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s