Posted in Uncategorized

Driving: Who Am I

Orang lain bisa saja (merasa) mengenal kita, bahkan sangat bisa hanya dengan melihat apa yg kita lakukan. Tanpa kita
perlu mengatakan. Oh, mungkin itu judging…

Misal; seseorang bisa bilang si A ekstrovert, karena dia bisa ngobrol dengan siapa aja, kapan aja, baru ketemu, temenan lama, sama abang gojek, sama abang sate padang ataupun ibu-ibu abis belanja di angkot.
Meskipun, seseorang itu ga pernah berinteraksi langsung sama si A.

Orang lain bisa bilang si B kalau dia perfeksionis hanya karena lihat dia berdiri lebih lama cuma untuk menyamakan dan meluruskan ujung kain handuk, atau hanya karena dia selalu membenarkan pencetan odol ke arah ujung setelah digunakan oranglain. Sekalipun seseorang itu tak pernah kena sewot karena ga ngikutin cara si B.

Atau seseorang bilang si C baper karena suka tetiba left group, atau tetiba ngediemin tanpa bilang apa-apa.

Ya, terkadang pandangan mata terlalu cepat berkesimpulan. Tanpa meminta penjelasan. Di mana penjelasan inilah yang menjadi alasan why they do like that? Atau That’s why I do this, not like you say.

Sehingga pada beberapa kesempatan, mungkin kita sering berselisih pendapat dengan oranglain. Tersebab apa yg kita lakukan berbeda atau bertolak belakang dengan pendapat mereka. Pada hal yang sama-sama kita tahu tentang benar-salahnya. Meskipun setiap keputusan akhirnya tidak hanya berfokus pada hal itu, tapi pada bagian mana yang lebih kita prioritaskan dengan berbagai variabel yang berpengaruh.

Sebagai ilustrasi, pada sebuah perjalanan bersama orang-orang baru dan tempat yang baru. Beberapa diantara mereka masih meng-anggur-kan piring kotor bekas makan ketika waktu bersiap untuk pulang hampir habis, seorang tour leader membereskan beberapa hal yang tentu tidak semuanya bekas makanannya. Melihat hal itu aku dan salah satu teman bergegas membereskan piring kotor. Tak peduli teman2 berkata “ngapain sih, kan bukan kamu yg makan. Harusnya mereka yang cuci, kan mereka yang makan. Aku ga rela ngeliat kalian kaya gini!”.
Dengan singkat aku hanya bilang “Ya gapapa, daripada kak TL yg beresin. Ga enak sama dia”.
Meskipun akhirnya mereka meradang dan negur orang2 yg makan ga ngeberesin piringnya.
Mungkin sekilas mereka menganggap bahwa kita jangan mau diperalat, dan harusnya setiap orang bertanggungjawab pada apa yg sudah dilakukan.

Yes, i know. I strongly agree. But in that time, its not my priority.

Prioritas saat itu adalah gimana kami bertanggungjawab pada pemilik homestay untuk meninggalkannya dalam keadaan yang bersih, sama seperti pertama kami datang. So fokus kita memang beda, ga hanya ke anggota rombongan tapi ke pihak2 lain yang secara ga langsung berkaitan sama kita.

Ya itulah drive, hal yang mendorong kita melakukan hal ini dan bukan hal itu. Semakin kita mengikuti drive dalam diri, seperti itulah seseorang melihat kita. Seperti itulah orang lain melihat karakter kita. Sehingga, in my opinion hal semacam ini gabisa langsung di- judge bahwa keputusan kita salah. Asalkan ga berlebihan, tak melanggar norma dan disertai penjelasan 🙂

Advertisements

Author:

Muslimah. Penikmat Hijau. Pembelajar dalam merawat hati dan menempa iman. Mencintai dunia pendidikan dan psikologi ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s