Posted in Ketukan Hati, Serba-Serbi

Becoming an ESTJ

Your personality type: “The Executive” (ESTJ-A)

Now, I’m become an ESTJ! Before it, i was an ISFJ! hahaha so wonderful!

How can? Seorang Intorvert menjadi Extrovert setelah beberapa tahun. Meskipun saya seorang lulusan Psikologi, entah tipe kepribadian semacam ini terhitung sangat jarang dibahas, tapi masih saja selalu asyik dibicarakan dalam forum-forum kecil bersama kawan dari berbagai fakultas lain 🙂

Dan masih teringat segar dalam memori saya, seorang mentor hebat ketika saya mengikuti program UI Student Development Programme (UISDP) tahun 2012 lalu, Bang M.Sani (Salah seorang pendiri Badr Interactive) pernah bilang – yang kira-kira begini redaksinya- “Dulu saya seorang yang sangat introvert banget, tapi ketika saya berinteraksi dengan banyak orang dengan lingkungan yang berbeda dan memaksa saya melakukan hal yang ‘di luar’ saya, lama-lama ketika tes lagi saya jadi extrovert loh”. Yeah it works!

Entah, luar biasanya Allah ya. Dia selalu memberikan segala hal terbaik tanpa kita meminta (dengan benar). Dan pada saat yang sama, ketika mentoring UISDP kami sharing tentang hasil MBTI kami. Hasil saya saat itu, yah! ISFJ. Introvert Sensing Feeling Judging. 

Ya intinya, sebelum masuk ke banyak pipilan kata ke depan, saya cuma mau bilang bahwa segalanya bisa berubah. Entah berapa tahun lagi. So it worked, perjalanan 4 tahun telah banyak merubah kehidupan saya. Tentang cara berfikir, tentang cara berhadapan dengan orang lain, tentang cara mengambil keputusan dan lainnya. Karena sejatinya, kedewasaan menuntun kita kepada jalan yang lebih indah untuk dinikmati, yang tak selalu lebih cepat dan menghabiskan banyak tenaga.

Sehingga, bagaimana caraNya merawat kita adalah mata bagaimana caraku mencintaiNya.

E

Introvert –> Extrovert. Yeah. adalah hal yang tak pernah terduga sebelumnya. Tapi.. tapi… memang sih kalau Anda ketemu saya di pandangan-pandangan pertama pasti bilangnya saya introvert. Dulu bahkan tingkat introvert saya hampir 70%. Lebih suka memikirkan segalanya sendiri, melow sendiri, baper sendiri dan netesin air mata bersamaan air hujan kalau lagi kangen rumah. Nah, kalau tanya sama temen yang udah pernah hidup bareng saya, pasti mereka bakal menolak mentah-mentah kalau saya orang yang pendiam. haha. Meskipun begitu mereka masih mengakui ke-introvert-an saya. That’s why, mereka masih belum bisa menangkap ke-ekstovert-an saya selama ini, sehingga kita bisa asyik-asyikan bareng, tapi kalau ga ketemu sama yang ekstrovert parah bakal diem-dieman aja kalau ga menemukan topik yang pas.

Selalu berfikir apa sih yang bisa membuat tingkat ekstrovert saya meningkat? Nah kalau dirunut-runut, kayanya ya saya berubah karena keadaan yang memaksa. eh, bukan ding tapi Allah kasih kesempatan buat belajar. Dulu, lebih suka pengikut aja, jadi orang belakang aja, akan menolak habis-habisan dengan senjata “saya takut ga mampu”, tapi bakal jadi orang yang loyalis sekali. Hhm mungkin karena sikap loyalis tadi, akhirnya kondisi membukakan mata bahwa ya saya gabisa terus begitu. Maunya di belakang saja dan mengambil peran menjalankan tugas saja. Kemudian konsep-konsep kompleks masuk dalam pikiran saya, sehingga memilin hati bahwa amanah tidak untuk diminta maupun ditolak. Ya semenjak itu, saya harus membiasakan diri bersikap berani. Berani mengambil peran!. Nah, mulailah perubahan-perubahan itu berkembang. Saya harus berinteraksi dengan banyak orang, yah bayangin kalau maunya ngedekem aja di kamar mengumpulkan energi buat diri sendiri ya ancur ajalah itu amanah. Mengharuskan untuk bisa memimpin rapat, mengarahkan orang lain, menyalurkan mimpi-mimpi dalam bentuk perencanaan dan mengontrol orang lain untuk turut mensukseskannya. Ya capek sekali awalnya, tapi entah kenapa justru ketika berkumpul dengan orang-orang di posisi yang sama Allah berikan kekuatan yang lebih, motivasi yang selalu masih. Mungkin di sinilah ekstrovert itu mulai mekar dari kuncup.

Yang ternyata, ia mengembang untuk semakin melebarkan rupa. Semenjaknya, yang diminta adalah saya harus lebih-lebih mendengarkan banyak orang, menyuapi semangat yang harus terkorek-korek dalam diri.

Setidaknya, saking introvert-nya  dulu bahkan saya akan benar-benar menolak untuk curhat dengan orang lain. Karena merasa -betapa rapuhnya dirimu-. Then, kondisi merubahnya dengan skenario tadi. That’s why, kini dengan setengah introvert-ekstrovert ini, saya cukup kenal banyak orang tapi  pada satu-dua orang saja yang ketika bertemu dengannya, hanya dengan tatapan mata, tiba-tiba air menetes melewati pipi kami. Tanpa kata tapi menembus rasa.

S

Sensing / Observant. Yup. saya emang merasa sebagai orang yang cukup pragmatis. Sulit berfilosofi dan memikirkan akar suatu hal. Lebih suka dengan hal di depan mata, dulunya sih sok-sokan jadi orang konseptor. Tapi nyatanya saya emang ga jago-jago amat, meski cukup sering berada pada posisi konseptor, tapi tetap saya adalah pelaksana yang baik, haha. Melakukan konsep berdasarkan pengalaman dan pembelajaran hasil melucuti ilmu sana sini. Ya, jadinya saya belum bisa jadi orang yang kreatif karena cara berfikirnya here and now, masih sulit membayangkan hal-hal wow yang akan terjadi. Kalau misalnya bikin Grand Design, saya paling sulit mendefinisikan 10 tahun lagi akan mencapai apa. Tapi saya akan cukup mudah menemukan hal penting apa yang harus kita perbaiki untuk mencapai itu. Ketika menemukannya, saya akan sangat bersemangat dan membuat penerus saya juga merasakan bahwa hal itu penting. Jadi, percayalah bahwa saya ga se-tidak punya perencanaan- itu. Saya tetap tahu nanti saya mau jadi apa, passion saya apa, dan bagaimana untuk mencapainya. In Syaa Allah. Meski dengan kondisi mental yang cukup pragmatis ini, saya akan memutuskan sebuah pengharapan yang dulu diharap-harapkan. Dengan berbagai cara pandang faktual dan konkret, in syaa Allah saya memutuskan untuk berjuang mencari beasiswa dan melanjutkan studi di dalam Negeri (dengan berbagai alasan yang menurut saya sangat masuk akal). Mohon doa ya 🙂

T

Iya banget. Ini juga perubahan yang saya rasakan. Feeling –> Thinking. Dulu sangat bermasalah sama perasaan orang lain, subjektif dan yaa begitulah. Alhamdulillah sekarang lebih bisa lebih bisa menyeimbangkan dengan alasan objektivitas. Dulu hampir selalu pakai hati kalau lagi mengambil keputusan, ya akhirnya lebih memilih mundur kalau hatinya ga enak, ga nyaman. Kalau sekarang, yakali mau kaya gitu? Udah gede, inget!.

Setidaknya sekarang merasa bahwa ketika mengambil keputusan cukup firm, dan ga ragu-ragu lagi. Karena sudah punya patokan akan efektivitasnya. Hhm, untung 54% jadi ga jomplang-jomplang banget, So i am not an Uncaring and overly hard people banget lah ya. Tapi ya akan ga terlalu ngerempongin orang yang sulit untuk bekerjasama. Kalau bisa dikerjain sendiri, yaudah dikerjain tapi tetep akan minta pertanggungjawaban. Nah makanya, saya agak sulit berhadapan dengan orang yang bilang ‘iya’ tapi sulit ditagih atau bahkan saya juga sulit berhadapan langsung dengan orang yang sangat dominan. Meskipun saya akan tetap fokus sama pekerjaan saya walaupun agak kurang bebas berekspresi gimana gitu.

J

Judging. Ya udahlah ini emang saya banget. ga berubah kok dari dulu. Meskipun anak lulusan Psikologi -yang katanya ga boleh ngejudge orang- tapi ya gimana, begini bawaannya karena emang sering menyimpulkan banyak hal dari hasil observasi. Dan maunya ga mau tertinggal dengan sebuah jawaban yang menggantung, apa lah ini. Cenderung stabil dan fokus sama tujuan awal, cukup rigid dan taat aturan. Akan cukup bermasalah banget kalau ga taat aturan misal nyelonong aja padahal lampu merah belum tuntas berhajat. Makanya kalau approach orang pengennya cepet dapet jawaban dan sekuat tenaga memastikan serta meyakinkan.

Terkadang bisa basa-basi, tapi selalu mengarahkan pada titik-titik di mana orang merasa ‘iya juga sih’, merasa dalam diri maksa banget sih, tapi yaudahlah emang kaya gitu mau gimana. ya emang itu cara meyakinkan dia. Nah dengan judging ini pula makanya orang suka ‘ih kok gitu sih’, kurang soft -lah karena cenderung lebih cepat mengambil keputusan. Dan, saya orangnya juga hitam-putih banget. apalagi kalau dalam hal agama dan prinsip. Udah deh ya, gausah diajak bedebat macem-macem. In syaa Allah saya cukup kuat mempertahankannya dengan cara berpikir dan pengalaman spiritual saya, ceileeh.

Asertif

Dan Yeay! Akhirnya tingkat asertivitas saya meningkat. Setelah sekian lama mengupayakannya, ya meskipun tanpa sadar selalu mengucapkannya ketika ditanya apa kekurangannya: Saya sulit berkata tidak. Akhirnya berhasil haha. Percaya atau tidak ini kegelisahan saya sejak tahun 2012 saat mentoring bareng bang Sani dan lagi laporan hasil tes MBTI. Akhirnyaaaaa…… But, beneran tapi asertif itu emang harus diasah loh, biar kita bisa mutusin hal apa yang lebih baik kita lakukan lebih dulu, bukan berarti egois tapi kita akan belajar meletakkan segala hal sesuai tempatnya dan tepat menyampaikannya.

Yeaah! finally accomplished.

Udah ah ya, ga biasa-biasanya nih membedah diri sendiri begini. Berasa kaya ngerjain tugas kuliah analisis diri lagi nih. Ah jadi kangen. SSssst udah.

finally 1308 words.

 

 

 

Advertisements

Author:

Muslimah. Penikmat Hijau. Sarjana Psikologi UI. Mencintai Pendidikan, Psikologi dan Pembinaan. Sederhana. Dewasa bersama dakwah, dan Merawat hati bersama Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s