Posted in Cerita-ku dan -kita, untuk Islam

Bekerja yang ‘Tidak Hanya’

image
Foto, doc http://dalamframe.blogspot.co.id

Bagi sebagian orang, selepas menerima ijazah yang bergelar…
Mendapatkan pekerjaan adalah salah satu doa terkeras yang terhampar dalam sujud-sujud malam.

Termasuk saya,

bukan untuk sekedar ‘mendapatkan rezeki’, tapi adalah sebentuk tanggung jawab seorang manusia dewasa, seorang anak pertama, seorang yang terdidik mandiri oleh agama dan orangtuanya. Tentu sebagai upaya memenuhi salah satu muwashafatnya.

Qadirun ala kasbi

Bekerja hanyalah SALAH SATU upaya mendekatkan rezeki, BUKAN mendatangkan rezeki. Karena Allah-lah yang menurunkannya.

Bekerja, juga adalah tetap bermakna cara. Cara yang berbeda tentang berdakwah (menebar kebaikan) dengan di kampus dulunya. Sehingga, doa-doa yg terungkap menjadi bulir2 air mata karena kesungguhan pun akan menuntunnya.

Saat bekerja mau apa?

Tanggung jawab dibaliknya yang harus dipertemukan dengan jalan surga. Mengabdi kepada Allah azza wajalla.

Karenanya, percayalah rezeki itu akan mengikuti, kalau Allah Ridha 🙂

Kalau dihitung2, gajiku ga cukup untuk kebutuhan ini itu. Biaya kos, uang makan, biaya ke dokter gigi dan kulit sekian dan sekian, biaya setoran TV, dll. Karena rezeki itu TIDAK SELALU BERBENTUK UANG!
Tapi Allah selalu cukupkan, in syaa Allah rezekinya berkah dan asal ga pelit2 buat sedekah

–Sharing dari tetangga kamar. Betul juga, tak perlu kita khawatir atas pembagian rezeki di sisi Allah.

Justru yang perlu kita khawatirkan adalah,
seberapa porsi diri kita untuk Allah? Apakah selewatnya saja, jika ingat saja, separuh saja,

atau seluruhnya?
Dengan meniatkan segala untuk beribadah dan meraup ridhoNya?
Setelah bekerja, patutkah semakin lemah berurusan dengan Allah! Padahal sepanjang waktu Dia berada dalam kesibukan (QS. Ar Rahman:29)

Bekerja penuh waktu, paruh waktu, bekerja di perusahaan dengan gaji selangit adalah pilihan.

Tapi bekerja karena, untuk, dan bersama Allah adalah pekerjaan sesungguhnya.

Itulah bekerja yang tidak hanya. Tidak hanya mencari uang, tidak hanya mencari link, tidak hanya bermain peran, tidak hanya jaga gengsi.

Tetapi mencari hati yang basah. Basah akan keimanan. Karenanya, bekerja tidak hanya mengeksploitasi potensi. Bekerja akan membangun pondasi. Membuka kontribusi. Serta memeluk hati untuk introspeksi.

Basahnya iman
ikhlasnya hati
lembutnya lisan
luwesnya kelakuan
merunduknya ke-tawadhu-an
renyahnya sapaan
merdunya Tilawah AlQur’an
luar biasanya jalan perjuangan
terasa semua begitu mengesankan

….adalah tanda bahwa Allah juga melimpahkan ki-tidak hanya-annya saja. Dia melampauimu memberikan segala kebutuhan untuk menjagamu. Bahkan yang tak pernah terucap.

Apapun pekerjaanmu

Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah [9]: 105)

Advertisements

Author:

Muslimah. Penikmat Hijau. Sarjana Psikologi UI. Mencintai Pendidikan, Psikologi dan Pembinaan. Sederhana. Dewasa bersama dakwah, dan Merawat hati bersama Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s