Posted in Uncategorized

Malam Takbiran : Memelihara Diri

Berawal dari azzam menuliskan segala buncah cerita selama bulan cinta Ramadhan, berharap Ridho menyelimuti. Menyiangi insane untuk meraup hikmah dari setiap sesuatu yang membuatnya terinspirasi…

 

Ah, melihat anak kecil menjatuhkan gelas tentu sangat mudah. Ia merasa tak berdosa, tapi bagi kita orang dewasa tentu tak mudah melepas perasaan tak enak dari dada. Yang dengan halus berprasangka apakah ada apa-apa, yang manusiawi melihat karena ia belum mengerti dan yang terlalu keras hati menganggap si anak kecil tak berhati-hati.

Bagi yang manusiawi, seorang dewasa akan berpikir “mungkin aku belum benar mengajarinya untuk berhati-hati, ke depannya aku harus selalu memperhatikan dia dan selalu mengingatkan pada diriku untuk bersabar menghadapi si manusia kecil”

***

Tak ubahnya diri, manusiawi yang selalu berusaha keras menuai hikmah dari setiap kejadian. Di penghujung Ramadhan, kudapati juga pelajaran nan melipat kesadaran. Yang tak pernah pantas untuk sombong atau bahkan bimbang dengan keadaan yang terberikan.

Sehari-hari di setiap langkah menjalani ramadhan tentu jiwa-jiwa ini menepi dan mencari tempat penyandaran teraman agar nanti saat syawal menjelang dan roda ramadhan sudah mulai berjalan pergi dan pulang.

Dan penyadaran teraman itu adalah menyelami diri sendiri. Menyemai kesadaran pada taraf superego sehingga hati sebagai kontrol saat otak mengirama yang sudah mulai meliuk dari standar nurani. Bukankah secara kognisi tentu kita sadari, jawabannya sudah lengkap dalam kitab suci dan sunnahnya yang terpatri. Untuk mencapai afeksi yang sempurna, maka lakukan sajalah tuntunannya. Niscaya ketenangan akan memancar, akibat mengaminkan dan mengimani hingga menjalani tuntunan yang tak pernah ter-ingkari.

Mencari jawaban dari “Barangsiapa menghayati malam hari raya Idul Fitri dan malam hari raya Idul Adha dengan amal ibadah sedang dia mengharapkan keridhoan Allah semata-mata hatinya tidak akan mati seperti hatinya orang-orang kafir.” (At-Thabrani), maka ucapkanlah saja apa-apa yang menenangkan dan menghidupkan hati agar ia mampu memelihara diri sampai nanti, sampai mati.

Advertisements

Author:

Muslimah. Penikmat Hijau. Sarjana Psikologi UI. Mencintai Pendidikan, Psikologi dan Pembinaan. Sederhana. Dewasa bersama dakwah, dan Merawat hati bersama Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s