Posted in Uncategorized

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru (berdakwah) kepada

Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang

yang menyerah diri (muslim)?” (Fushshilat: 33)

 

 

Bahagia itu menyenangkan. Baik yang terlihat ataupun tidak. Baik semu ataupun nyata. Baik sementara atau selamanya.

Ya memang kaidahnya bahagia itu membahagiakan. Biasanya kalau kebahagiaan itu dapat dibagikan atau memang kebahagiaan itu berjama’ah akan semakin meningkatkan intensi bahagia itu sendiri. Sebuah penelitian dimana partisipannya diberikan sejumlah uang membuktikan bahwa mereka yang menghabiskan uang bersama atau dibagikan kepada orang lain kualitas hidup dan tingkat kebahagiannya lebih tinggi dibanding partisipan yang menghabiskan uang tersebut sendirian.

Sebuah hal yang manusiawi. Kebahagiaan yang hakiki adalah, baik kita maupun orang lain yang berhati tulus akan memiliki mata yang sama dalam memaknai kebahagiaan itu. Beda cerita dengan kebahagiaan yang semu, adalah ketika ada sebagian orang yang menganggap itu adalah hal yang memang membahagiakan dan ada pula sebagian orang yang melihatnya sebagai sebuah hal yang sangat pahit dan pelik.

Maka bahagiakan diri dengan menuju dzat yang maha sempurna dan kekal selamanya, sama sekali tidak sementara.

Setiap orang mungkin memiliki standar bahagia yang berbeda-beda. Ada yang bahagia karena rindunya terhadap harta, tahta ataupun wanita tertunaikan. Ada yang menyulam bahagia ketika berkumpul bersama keluarga. Ada yang berbahagia karena menang menukik lawan bicara. Ada yang bahagia saat ia puas berbagi dengan sesama. Atau bahkan ada yang sudah cukup bahagia saat memberikan uang saku lebih kepada anaknya.

Tapi bagi saya, bahagia adalah perkara cinta. Hati yang mencinta, bibirnya akan tersenyum bahagia ketika orang-orang ataupun hal yang dicintainya berlaku sesuai fitrah dan jalan Tuhannya.

Maka kelolalah cinta dengan bijaksana. Dengan kedewasaan yang kita miliki sesuai dengan standar yang ada. Tentang halal dan haram sudah jelas tersedia, tinggal bagaimana kita bersikap yang lebih bijaksana. Kepada siapa saja cinta kita disederhanakan dan terkumpul dalam doa-doa serta amal bukti nyata. Dan maka semoga kita termasuk dalam orang-orang yang terhubung dengan langit dan Allah tunjukkan hikmah dalam mengelola cinta agar terjaga sampai surga.

 

Orang-orang yang terhubung ke langit, adalah orang-orang yang menanggung beban untuk membawa manusia ke jalan cahaya. Mereka menjadi manusia-manusia dengan ketahanan menakjubkan menghadapi kebengalan sesama titah. Mereka menjadi orang-orang yang paling teguh hati, paling lapang dada, paling sabar, paling lembut, paling santun, paling ramah, dan paling ringan tangan. Keterhubungan dengan langit itu yang mempertahankan mereka di atas garis edar kebajikan, sebagai bukti bahwa merekalah wakil sah dari kebenaran (Dalam Dekapan Ukhuwah : 71)

 

Advertisements

Author:

Muslimah. Penikmat Hijau. Pembelajar dalam merawat hati dan menempa iman. Mencintai dunia pendidikan dan psikologi ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s