Posted in Uncategorized

Sepangkas Kata untuk Saudara

panda ILC

Teruntuk saudara-saudara seperjuangan di Forum Ukhuwah dan Studi Islam XV Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

[JANGAN DIBACA] jika posisi Anda tidak PeWe, hehe

Bismillahirrohmaanirrohiim…

Apa kabar hati ? Apa kabar iman ?? Semoga ia tetap merunduk di pucuk-pucuk embun yang menostalgiakan segala rangkuman keadaan. Hari ini izinkan saya sedikit memunculkan hati, menyampaikan dengan hati dan semoga sampai ke hati kembali. *apasih 🙂 Entah harus dimulai dengan frekuensi seberapa hingga akhirnya saya menulis note ini, mungkin saat pertama kali saya sadar bahwa kita dipertemukan dalam suatu bentuk yang (mulai dan akan) memesona..

Pertama kali saat kita diperkenalkan melalui media dunia dan dipersaudarakan Allah dalam bingkai akidah yang sama. Alhamdulillah tak jera-jera ku bersimpul senyum menyambut saudara-saudara terbaik yang Allah persiapkan untuk bersama-sama membina keluarga *eh maksudnya membina ukhuwah bersama. Padahal tak ku kira akan dengan siapa aku bersama, tak tahu dari mana sama-sama, tak tahu harus bagaimana berbahasa,  menyamakan cita-cita dan mengakomodir setiap logika… ya mungkin itu cara Dia mempertemukan kita.. denganmu wahai makhluk istimewa,

Saudaraku,..

hingga sampai saat ini, saat dengusan nafas masih kau rasakan ketika membaca kalimat ini, saat kau tersadar hidungmu masih lekat menempel pada tempat yang terberi, izinkan pertanyaan ini sedikit mengusik nuranimu..

Masihkah kau yakin memilih bertahan berada di antara barisan ini ?

Barisan yang kata ust.Rahmat Abdullah setiap harinya menggaung-gaungkan tentang cinta, cinta yang akan meminta semuanya dari dirimu. pikiran, perhatian bahkan mimpi tentang dakwah Islam yang sedang kau jalani kini.

karena di bumi kita tak hanya mencari tapi  juga memberi, tak hanya menggali tapi juga mengabdi, tak hanya menabur tapi juga membaur namun jangan sampai malah terkubur..

jika rasa enggan itu masih menjadi madu

jika ragu itu masih memburu

jika bosan, apatis, malas itu masih menjadi candu

maka mungkin kita masih harus kembali lagi ke pangkuan ibu, memintanya mengajari kita tentang cara memecah batu, atau masih mau bermain gundu..

jika rasa-rasa itu masih merayu, mari kita ingat pejuang-pejuang kita terdahulu, yang dengannya iman tersemat di dada, tawadhu’ menjadi jaminan antaranya, ikhlas menjadi penyempurna dan sabar sebagai bentuk bertahan di sana.

Sekarang, kita tak perlu lagi seperti Bilal bin Rabah ! Di setiap terik matahari di tengah padang pasir Mekkah yang panas lagi mengkilat siap menggosongkan tubuhnya, lantaran kaum Quraisy itu memaksa para budak memakai baju besi agar panas matahari itu terasa memahat ubun-ubunnya, setiap hari dikejar kematian !

Kita tak perlu seperti Sumayyah, yang harus rela merasakan pedihnya tombak menembus perut hingga ke punggungnya, demi mempertahankan satu. Akidahnya !!

Bahkan kita juga tak perlu seperti Mush’ab bin Umair  yang harus berjuang sendiri di negeri seberang mempersiapkan Madinah selama satu tahun seorang diri, meninggalkan sang ibu yang sangat dicintai dan menanggalkan segala pernik-pernik materi yang dimiliki. Demi Illahi. Bahkan di akhir hidupnya masih menghayati kedua lengannya yang sudah putus untuk memegang panji-panji Islam. Keduanya tertebas saat mempertahankan harga diri, Illahi. Hingga terhenti saat tombah menghunus tubuhnya, syahid.

Dan, kita hanya perlu meneruskan, Berbekal sedikit sabar, mengolah hati, belajar ikhlas. Menata diri, memelihara kesantunan. Menahan kata dari mengeluh di hadapan manusia.. Sedangkan kita punya banyak saudara di sekeliling kita, yang mungkin ketika bertemu masih enggan untuk menyapa, masih malu untuk saling berbicara. Padahal secara fitrah kita bersaudara 🙂 maka ingatkah firman Allah kepada kita ??

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi .”penolong sebagian yang lain.” (at-Taubah : 71)

Dari Abu Malik al-Asy’ari ra. Ia berkata, Sesungguhnya, Rasulullah saw. bersabda “Sesungguhnya di kalangan hamba-hamba Allah ada beberapa orang yang bukan para nabi dan syuhada, tetapi para nabi dan syuhada menginginkan kedudukan yang diberikan oleh Allah kepada mereka. “Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepada kami, siapakah mereka itu?” Rasulullah saw. bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, bukan karena hubungan kekerabatan diantara mereka. Juga bukan karena harta yang saling mereka berikan. Demi Allah, wajah mereka adalah (seperti) cahaya dan mereka berada diatas cahaya. Mereka tidak merasa takut tatkala manusia ketakutan dan tidak bersedih hati tatkala manusia bersdih hati. Kemudian Rasulullah saw. membaca (ayat), “Ingatlah, sesungguhnya, wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.’” (Yunus:62)” H.R Ahmad:5/343

Begitulah ukhuwah saudara,. yang menyatukan kita dalam satu barisan yang seirama. Saling menjaga untuk saling kembali pada kebenaran akidah dan semangat beribadah, ya dengan ukhuwah..

Namun, sudahkah kita merasakan nikmatnya ukhuwah ? sedang di antara kita masih ragu walau hanya sekedar memanggil nama, atau bahkan menanyakan cita-cita..

Ketika bertemu, yang ditanyakan adalah masalah kerja. Nikmatkah ?

Dan saya yakin, upaya kita tidak akan sempurna jika kita masih merasa berdiri dan berjalan sendiri. Kita bersaudara, maka manfaatkan kesemptan yang dipunya untuk saling mengeja kriteria jalan kita. Forum ukhuwah yang menjunjung studi Islam ini belum cukup menjadi sarana jika masing-masing kita masih enggan mengikatkan diri pada barisan yang kita atur sendiri. Ikatan hati J

Akan mengerti, jika peluh teman-teman tersebar tak hanya di forum ini. Ribuan lelah yang telah disebar di sana-sini sudah menjadi saksi kesungguhan dalam mengabdi. Tapi apa rasanya nikmat jika tangan, kaki, hati, dan pikiran hanya bekerja dan tak mengenal simpul-simpul pertemuannya.

Allah mencintai barisan yang teratur, dimana di dalamnya ada aroma ukhuwah yang mengikat, ada semangat beribadah yang menguat, dan ada ikatan akidah sebagai pengingat.

Wahai saudaraku, mari kita saling mendekat. Meratakan barisan, mengukur sekat hingga kita tahu bahwa kita sedang berjamaah. Menjalankan amanah yang maha dahsyat. Mari saling mengingatkan jika ada salah diri, mari membagi hati untuk mengikat diri. Karena kita di sini menjual diri untuk Illahi 🙂

Tetap sematkan dalam setiap kidung Rabithahmu 🙂

Advertisements

Author:

Muslimah. Penikmat Hijau. Pembelajar dalam merawat hati dan menempa iman. Mencintai dunia pendidikan dan psikologi ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s