Posted in Puisi, Uncategorized

Perjumpaan Malam itu dengan Kartini (Helvy Tiana Rosa)

2012-09-21 14.46.52

Ibu
Fotomu telah berulangkali dicetak untuk dipajang di pigura zaman negeri ini.
Sejak Snouck Hugronje, Abendanon dan Estelle dari negeri merah putih biru
berilusi tentang gelap yang jadi terang, kami digiring percaya
hingga ujung-ujung kebayamu

Maka setiap tiba pada hari itu, kami diingatkan
untuk berdiri tinggi di atas tebing hidup atas nama emansipasi
dan segala bentuk perjuangan sebagai gadis, istri, ibu, sebagai manusia.
Meski kadang kami tak mampu mengeja makna bahkan kerap
membolak baliknya semau kami, kami katakan itu mimpimu
dan kami rayakan atas namamu, ibu.
Sebab selalu habis gelap terbitlah terang

Malam merayap sampai ke ubun-ubun hari
bulan pucat mengantar bayanganmu di beranda.
Angin beringsut perlahan, sepi suara serangga.
Seperti perih yang terlempar kembali ke abad lalu,
tiba-tiba kudengar lirih tangismu di antara alunan gending yang gigil.
Lalu sejumlah tanya mencabik, bergema menyelusup ke sumsum masa

Kau bilang ada tangan-tangan yang mencipta
sosokmu sebagai ibu kami
dan itu bukan tangan pertiwi

Malam itu dalam gelap bibirmu mengucap nama-nama.
Angin menuntun tangan putihmu
menulis para puan pemahat matari sejati
yang tak pernah bisa sungguh-sungguh disembunyikan musim
:Safiatuddin Syah Tajul Alam, Keumalahayati, Cut Nyak Dhien,
Rohana Kudus, Christina Martha Tiahahu, Siti Aisyah We Tenriolle
dan ribuan perempuan lain.

: “Mereka yang paling sejarah!” katamu. “Tidakkah kalian bisa menyaksi?”

Lalu kau hampiri aku yang termangu, pias dan menggigil.
Dengan tangan gemetar kau serahkan penamu padaku.
“Tuliskan ribuan nama lain!”isakmu.
Aku ingin mengucap sesuatu atas hormatku padamu, Ibu,
tapi suaraku hilang dihisap malam.

Dan pena itu meliuk sendiri di udara, menuliskan lagi nama-nama
di atas pulau-pulau negeri, menjelma kembang api
dan lempengan cahaya paling kemilau: para puan pemahat matari,
yang tak pernah bisa sungguh-sungguh disembunyikan musim
:Safiatuddin Syah Tajul Alam, Keumalahayati, Cut Nyak Dhien, Rohana Kudus, , Christina Martha Tiahahu, Siti Aisyah We Tenriolle dan ribuan perempuan lain.

Lalu sayup kudengar lagi suaramu dibawa angin sampai jauh
: aku adalah hanya, tercipta dari surat-surat lara yang paling entah
aku lahir dari sejarah yang dikebiri….

Malam itu aku tersedak, bahkan tak bisa mengucapkan resah
yang berlarian melintasi tingkap jendela
Kupeluk fotomu sambil terus menulis tak terhingga nama
yang kutanam kembali di nadi dan belantara benak zaman

:Ibu!

(2 April 2012)

Advertisements

Author:

Muslimah. Penikmat Hijau. Pembelajar dalam merawat hati dan menempa iman. Mencintai dunia pendidikan dan psikologi ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s