Posted in Cerita-ku dan -kita, untuk Islam

Muhasabah Ramadhan *Merindukan Militan*

381641_10151339208149274_2074384955_n

Teduh, melihat parasnya yang senantiasa tergambar beriak air wudlu.. berseri, lembut senyumnya sekian menyapa semua orang yang terlalui, walau kini ku kenal mereka penuh rasa perih, pedih, ringkih jika tidak iman yang menguatkannya. Hanya kata-kata nama Allah yang keluar dari bibirnya, hanya setiap tengah gelap waktunya menyandar sekedar bercerita tentang perihnya, hanya kepada hati ia berani menyadur diri sendiri. Bukan kepada manusia lain ia berpesan kesahnya, tapi kepada yang lain ia sumbang senyum bahagia saudaranya. Meski tak dimengerti, mungkin tubuhnya kini sedang dikejar mati. Hanya itu yang membuat ia bergerak dan tetap tegak. Dan orang lain hanya melihat..

Hanya yang membuatku benar-benar malu, malu karena melihatnya saja aku tengkurap rindu… rindu.. rindu akan kemilitan yang kini kian pudar, entah pudar ditelan zaman atau pudar ditelan keangkuhan dan keegoisan ?

Namun mereka, hadir. Hadir memperkenalkan diri sebagai pejuang, mengusung asas kemilitansian.. dengan bukti, lihatlah mereka selalu datang di saat semuanya masih tengkulap kekenyangan, bisa jadi mereka datang justru karena lapar, lapar meneguk pahala yang ranum, bagi mereka. Bukan karena alasan prestige ia hadir, bukan pula riuh tepuk tangan mengusung angkuh, apalagi pamrih yang membuatnya merasa lebih. Mereka tak datang karena dipanggil, mereka datang karena terpanggil.

Masihkah ia menunggu ?? Jika ia sendiri tahu siapa yang perlu dibantu. Sadar, tak peduli dirinya butuh bantuan tapi yang ditanya siapa saudaranya butuh bantuan ? tak pernah ditanya tentang hidupnya, lewat.. tapi yang selalu ditanya bagaimana perkembangan saudaranya. Subhanallah.. bukan karena ingin terkesan ia belajar pandai. Bahkan bukan karena tuntutan ia memindai, sendiri. Ke dalam diri. Ia leading diri sendiri, kemudian mencerah di sekitar garis merah.

Tegas, tak memihak budi pribadi namun objektif melihat nurani. Mereka tak sibuk mengurus diri sendiri, umat yang mereka cintai namun tak melupakan kewajiban tunjuk Illahi. Mereka mengkaji dan kemudian berbagi, bukan menafsiri semua dan berprasangka sendiri. Mereka belajar  kemudian memahami, bukan mengejar kemudian mengamini. Mereka beramal untuk mengabdi, bukan menjegal kemudian memenangkan diri. Mereka lupa kata lelah apalagi mengalah. Sampai pendar matahari ia bilang anugerah, guntur gemuruh ia bilang berkah. Semua indah di mata pejuang.

Mutlak ia menang. Tak ada luput dari pandangan, tak ada lepas dari ingatan, tak ada lewat dari perhatian. Kewajiban seakan jadi mainan, karena bahagia mengusung setiap langkah kakinya, bukan keluh banyak amanah di pundaknya. Terlena akan doa adalah dosa, tangannya menjaring tepat makna.. kepada keluarga, tetangga, buku dan saku tak ada beda, perhatiannya sama besarnya. Karena cinta yang ada dalam hatinya, menjaring makna di setiap derap kakinya. Apapun alasannya, semua berlandas cinta pada Rabbnya.

Militansi akan segera kembali, jika ego segera berdamai dengan hati, bersinergi dengan kaki. Jadilah ia pejuang sejati, menjual jiwa raga dengan ikhlas. Menjadi manusia langit yang takkan lepas kendali. Berjamaah mencari ikatan hati dan bergerak dengan riang hati. Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka (At-Taubah : 11)

Dan sekarang bukan lagi merenungi usia yang telah semakin tua, meski telah kalah dengan Muhammad Al-Fatih yang mampu bertandang memberi bukti kesungguhan amalnya. Mari kita teladani beliau, pantaskan diri menjadi seorang yang memang pantas dikenang sejarah bukan sebatas tertulis tinta namun melekat dalam lubuk hati, sampai nanti sampai mati. Karena bukan ditanya telah jadi apa kau kemarin, tapi telah kau lakukan apa, nanti.. nanti dalam perhitungan keadilan Tuhan. Tapi sekarang, mari muhasabah dan bangun diri kembali. Ia telah lelah mengalah dan saatnya tiba masa berbuah.

Momen Ramadhan ini kawan, yuk manfaatkan dengan seksama bijaksana. Tak Cuma meningkatkan kualitas diri dan mari aktualisasikan diri, tak hanya pada diri pribadi dan tiliklah mereka yang menanti. Mari aktif memberi dan tak hanya pasif diberi. Happy Ramadhan 🙂

Suciati Zen Nur Hidayati

Asrama UI Depok, 21 Juli 2012 23:40

yuuk siap-siap Ramadhan tahun ini 🙂

Advertisements

Author:

Muslimah. Penikmat Hijau. Sarjana Psikologi UI. Mencintai Pendidikan, Psikologi dan Pembinaan. Sederhana. Dewasa bersama dakwah, dan Merawat hati bersama Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s