Posted in Uncategorized, untuk Islam

Ada apa dengan tanggal 21 April ?

Rasanya anak-anak kecil seusia TK nampak sangat senang jika tiba pada tanggal 21 April, kenapa ? Ya, masih pagi buta mereka sudah mengantre panjang di setiap etalase kios tata rias yang buka. Sepertinya bunda mereka sudah repot dari berpekan-pekan yang lalu mempersiapkan kostum dan penampilan terbaik puteri mereka. Khusus pada tanggal 21 April. Yah mungkin pernah kamu rasakan juga, standar festival anak-anak. Menjadi ajang wahana bagi anak-anak kecil itu menjajal pakaian kebaya ala zaman tradisional yang melambangkan budaya bangsa kita, Indonesia. Karena guru mereka mengajarkan mulai cerita, karya hingga menghafalkan sebuah lagu yang ‘katanya’ bangsa Indonesia kagum dengannya. Pasti kamu juga sudah kenal ! ya, Kartini.

Bahkan tak hanya anak-anak TK itu yang repot beserta bundanya, para perempuan dengan segala titel yang disandangnya juga mulai menyuarakan gagasan-gagasannya. Cocok dengan gagasan emansipasi wanita yang diusung Kartini pada masa itu. Mulai bermunculan segala hasil wawancara tentang perempuan bahwa mereka harus ini lah, itu lah. Dan haruskah menunggu tanggal 21 April untuk menyampaikan itu, rasanya kapan saja perempuan tersebut bisa mengajukan gagasannya secara bebas mengingat yang dijunjung tinggi oleh bangsa kita adalah HAM. Mungkin rasanya menjadi terdramatisir dengan adanya sejarah mengenai 21 April ini.

Bagi saya, sekitar setahun yang lalu tersadarkan dalam sebuah materi Nasionalisme mulai mempertanyakan bahwa benarkah ini fakta sejarah ? mengapa tanggal 21 April didaulat sebagai Hari Kartini ? Rasanya hanya dengan sebuah karya Habis Gelap Terbitlah Terang itu nama Kartini kian melejit, padahal tahukah bangsa Indonesia tentang fakta sejarah sesungguhnya. Tak bisa dipungkiri bahwa dengan adanya politisi-politisi yang berkembang sejarah bangsa kita banyak yang dibelokkan bahkan dipangkas entah oleh siapa. Entah itu oleh bangsa kita atau malah oleh musuh kita. Pasalnya saya menemukan sumber yang disuarakan oleh seorang ahli sejarah menyatakan bahwa nama Kartini dipublikasikan besar-besaran oleh para pejabat Belanda kala itu dengan tujuan politis, dan bukan atas apresiasi murni warga Indonesia.

Mengapa nama Kartini muncul menjadi sebutan salah satu nama hari dalam penanggalan Indonesia. Sedangkan tak ada hari Soekarno ! tak ada hari Bung Tomo ! tak ada hari Ki Hajar Dewantara ! yang ada hari kemerdekaan Indonesia, hari Pahlawan, hari Pendidikan Nasional !

bahkan nama-nama pahlawan tersebut tidak menjadi salah satu nama hari dalam penanggalan kita. Yang ada hanyalah nama pencapaian-pencapaian mereka bagi peradaban bangsa ini. Jelas hal ini menambah keraguan saya atas merebaknya sejarah yang telah digeneralisir dan tak dikritisi oleh bangsa ini.

Terlepas dari peran Kartini yang memiliki imbas bagi perempuan di Indonesia, harusnya bangsa kita mulai berpikir kritis. Kurikulum yang diterima di sekolah hanya ditelan mentah-mentah. Mengenai sosok Kartini, harusnya pihak pemerintah mengevaluasi serta memerbaharui kurikulum sekolah serta klarifikasi sejarah sesuai dengan fakta sejarah yang sesungguhnya. Karena masih banyak lagi sosok perempuan Indonesia yang memiliki peran yang amat besar sebelum Kartini. Kita punya Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, Kumalahayati yang merupakan pemimpin perang wanita pertama di dunia, dan masih banyak lagi. Begitu banyak sosok-sosok yang bisa diteladani untuk menjadi perempuan yang memiliki peran untuk bangsa ini. Bahkan sejak zaman Rasulullah pun kita punya Siti Khadijah yang lebih dulu memajukan emansipasi wanita yang terbukti dengan keberhasilan beliau menjadi seorang pedagang yang sukses.

Maka, teladan dalam hal peran wanita ini sepantasnya tak hanya dimaknai secara simbolik seperti memakai baju kebaya, dll. Terutama bagi anak-anak, mari menjadi orang dewasa yang cerdas. Tanamkan kepada adik-adik dan anak-anak kita kelak sejak dini mengenai esensi dari setiap peristiwa sejarah yang telah mendahului kita agar menjadi sebuah teladan yang lurus bagi bangsa kita.

Advertisements

Author:

Muslimah. Penikmat Hijau. Sarjana Psikologi UI. Mencintai Pendidikan, Psikologi dan Pembinaan. Sederhana. Dewasa bersama dakwah, dan Merawat hati bersama Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s