Posted in Cerita-ku dan -kita, Puisi

Kamu : Hujan dalam Mendungku

l
tadi sore di sini hujan..
kubilang lebih dari pertanyaan tentang mendung yang sering kau tanyakan
sampai saat ini aku masih menyenangi suasana ketika hujan, ketika tempiasnya mengenai tubuhku, ketika aroma tanah mulai membubuhi hidungku, sama seperti kamu yang selalu menikmati hujan..
dan ku yakin ketika memvisualisasikan tentang kesukaanmu, ya kamu selalu mengayuh sepedamu dengan lebih kencang.. persis ketika hujan datang menyerang ramai-ramai,
seperti yang biasa kau lakukan saat berpamitan di depan rumahku malam-malam, saat aku pulang. sirna begitu saja dengan segera, katamu ‘takut dikejar hujan!’tapi ada hal yang membuatku kadang sebal dengan tingkahmu. karena senjatamu adalah diam, dan kamu juga selalu bilang ‘aku baik-baik saja’.
kamu pikir aku puas dengan kebiasaan gelagatmu itu ?
menyembunyikan semuanya ketika aku pulang, diam dan seperti tak ada apa-apa. berharap aku tahu semuanya.
padahal aku pulang ingin mendengarmu, langsung dari rakitan kata-katamu.
sedang ketika aku kembali ke perantauan, mulai kau hinggapkan penasaran.
ah itulah kamu ! dari dulu seperti itu !
mencari momen agar selalu ku merindukanmu, di setiap layangan suara dari arah yang berlawanan.. untung-untung ceritamu tentang ibu, yang tetiba menjadikan hujan.kuturuti apa-apa yang menjadi sesukamu, lebih-lebih ketika aku pulang..
agar ku setidaknya tahu ‘apa’ kamu sekarang, tapi kamu juga lebih banyak diam.
kecuali kalau tawaran ke menara harapan itu terlontarkan, itulah dirimu terkuakkan..
bahkan hingga malam, pengurus masjid sudah lewat masa bertualang, tapi bagi kita ini masih jam siang, ah dasar !

sebenarnya aku juga tak lebih banyak berbicara daripada kamu, menghias langit dengan menggabungkan ide kita lebih menyenangkan bagiku.
mungkin ini cara Tuhan men-skenariokan pertemuan rindu di antara kita.
kamu dengan pijakan tanahmu, dan aku juga dengan jajaran kaki di bumi yang sebenarnya sama.
kamu yang menawarkan pundakmu, meski tak begitu tebal tapi bagian dirimu yang kau tawarkan begitu hangat.
mengisi mozaik-mozaik dariku yang dipaksa alam untuk hilang.

guratan lelah dalam wajahmu tetap saja terlihat terang, kurus tubuhmu juga tak meragukan kekuatan, senyummu yang ikhlas selalu merubah haluan, tenang walau kau punya banyak tantangan. dan karena itu aku harus bilang kamu hebat.

kata-kata dalam pesan, kata-kata dalam rekaman, itu yang membuat hujan.
jatuh ke segala pelataran. kamu yang meyakinkan.

sekarang aku mau kamu lebih jujur !
agar siap tanah yang hendak kau tanjaki tahun ini dan berikutnya.
janji di bawah menara itu akan selalu tergema, kawan
agar ku bisa meng-gojlokimu nanti seperti yang kamu lakukan malam kemarin
saat nafasku tertahan dihalang air

kamu yang selalu menjadi hujan dalam mendungku, sesegera mungkin jatuh. basah dan meresap ke dalam tanah hati.

di balik pojok jendela penggambar kesepian langit, tanpa bintang dan hanya gambaran debu yang berlubang
Asrama Mahasiswa UI, Depok
03/04/2013 21:49

Advertisements

Author:

Muslimah. Penikmat Hijau. Pembelajar dalam merawat hati dan menempa iman. Mencintai dunia pendidikan dan psikologi ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s