Posted in Uncategorized

Ukhuwah #Edisi Dua

Hidup memang tak bisa memilih, di mana kita dilahirkan, dari rahim siapa dilahirkan, dan di negeri mana kita ditanggung tanah..

Alhamdulillah, Allah memilihkan akidah yang searah dalam tempat yang paling tepat untuk mencari teladan. tak terkecuali dengan siapa kita hendak berukhuwah..

Ya.

dalam hal ini Dia mewajibkan di antara kita untuk saling bersaudara seiman. 

entah dalam bingkai kehidupan, pengingatan atau bingkai kewarganegaraan. yang penting kita bisa saling sama-sama membagi harapan,

mungkin ini memang tepat yang dipersiapkan Tuhan, mempertemukanku dengan seonggok manusia dari ras lain. dalam keimanan yang sama ternyata kita bisa memadukan lisan menjadi tonggak perbincangan.

ya, 2 hari yang lalu.. aku yang tak masih susah sekali berkata ‘tidak’, mengikuti permintaan seorang saudariku ini, memang beberapa waktu ini kami mulai dekat.. bukan berarti dulu tidak ataupun sekarang tiba-tiba dekat. mungkin memang Allah yang bisa menafsirkan ini semua. aku mulai banyak belajar dari dia, tentang memprioritaskan kata, tentang bersikap apa adanya dan tegas sederhana.

berlalulah kami dalam agenda tak terduga, mengikutinya kemudian berbagi kesempatan berbicara. mengelilingi UI 2 kali nampaknya menjadi sebuah gerbang keterbukaan. sekali di sore hari menuju perpustakaan pusat menemui agendaku, sepanjang perjalanan kami saling memfeedback dan mencari celah dari diri yang masih perlu asahan pola dan sistem yang mandiri *apacoba “–“

ya, menjadi satu pelecut sendiri hari-hari ini, merasakan apa yang sebenarnya terjadi dan mendapat penguatan pandangan dari orang lain. bukan bermaksud menjatuhkan, tapi itulah sahabat, itulah ukhuwah.. berkomentar bukan untuk membaik-baikkan tapi ia ingin kita menjadi baik. 

dia bilang, kamu harus tegas ! jangan ikut mainstream ! sebenarnya kamu punya hal yang lain, tapi yang kamu keluarkan sama seperti kebanyakan orang bilang ! lebih baik orang lain yang mencela kamu, daripada diri sendiri yang menganggap dirinya lemah ! mau jadi apa kalo sudah diri sendiri menganggap dirinya lemah ! 

seketika terhempas, dalam duduk di hadapan AlQur’an pun semua serasa nyesssss, leleh tak berasa, menyembunyikan tetesan di belakangnya. tapi aku yakin dia merasa setiap getar yang menyalurkan sinyal asa. terimakasih saudara..

ketika bersama dia yang baru saja dekat dan terbuka, tiba saatnya aku yang menentukan. berjalan dari MUI ke asrama dengan waktu tempuh 45 menit pun menjasi tak ada gunanya jika aku tak segera bangkit atau malah bergeliat di tempat saja.

namun Allah menunjukkan segala kebaikannya, muncul sosok lain yang menwarkan pundaknya dalam maya, dia datang tanpa diminta dan mengorek semua yang kupunya,,

tak bisalah terbendung, hingga mata tak hanya berkaca-kaca tapi telah tumpah dalam padang kerinduannya. hidung tak berlubang ditutup sesak nafas yang menarik maju mundur. ialah ukhuwah yang selalu mengingatkan mimpi kita di atas menara masjid itu. hampir setiap aku pulang ke rumah. dan dia masih ingat hingga sekarang. mimpi-mimpi apa yang pernah tertumpah, walau tersembunyi dari khalayak manusia di dimensi ruang yang lain. 

Advertisements

Author:

Muslimah. Penikmat Hijau. Sarjana Psikologi UI. Mencintai Pendidikan, Psikologi dan Pembinaan. Sederhana. Dewasa bersama dakwah, dan Merawat hati bersama Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s