Posted in Uncategorized

Ukhuwah #Edisi Satu

Berbicara tentang ukhuwah, mesti bisa saja dihubungkan dengan segala jenis keadaan yang berhamburan. Entah masih rapi dalam rak, di barisan ibadah dan dakwah ataupun yang telah beranak acak dalam bingkai nostalgia yang lain. ah ini yang membuat aku bosan, hanya meratapi getar rindu padahal penimbang ukhuwah itu sedang berada di puncak rayu. Menyendiri dalam butiran-butiran kalbu, tak mengapa jika iman dan abdi Allah yang ia pertaruhkan. Dan ialah gerbang keputusan, ketika harus berhadapan pada suatu keadaan. Ya atau tidak. Berkenalan atau berjauhan, mendekati yang membalik dari yang ditanam.

Namun, kali ini ada sepucuk ukhuwah yang tak ragu mengigu. Ia hadir dalam bingkai akidah yang sah, merencanakan kabar-kabar surga dan menggandeng dalam memahami dunia. Tanpa rona tanpa rasa yang dibuat tiba-tiba, tanpa aroma yang seketika ada. Dan sekali-kali menitip sejumpit doa, pada yang hatinya masih berdesir. Bingung membingungkan keyakinan pilihannya. Beradu dalam pilinan raga dan nyawa yang berebut mendapat tempat.

Tapi inilah cara Allah mempertemukan hambaNya, mempersatukan dalam satu skema ukhuwah yang telah diagendakan. Memberikan kesempatan untuk sama-sama saling belajar, tentang semangat, tentang ilmu, tentang tawadhu’, tentang tawazun dan tentang cara memilih irama. Tanpa batas usia, tanpa deru kesombongan sejuit. Itulah ukhuwah, ikhlas mempertemukan hamba dengan masing-masing masalah yang bertandang di pundaknya. Menggali ari agar tak jauh dari bumi. Meminang air agar menjaga kesejukan. Membekali hati agar tak rela beriak yang meliputi. Ukhuwah memang anugerah Allah yang dicipta pada masing-masing hati, tapi nurani yang bisa mengeja setiap sinyal yang berdiri.

Karena ukhuwah takkan berakhir, maka jangan pernah kau rindukan ukhuwah ! tapi bangunlah ia menjadi tiang-tiang penyangga harapan, menjadi pasak penahan penghargaan dan menjadi kipas yang berkompilasi dengan angin pembawa keheningan muhasabah. Jangan biarkan ia berlalu, karena setiap nafasnya maju mundur tak teratur jika nuraninya tak hidup. Redup. Dipaksa duduk. 

Advertisements

Author:

Muslimah. Penikmat Hijau. Pembelajar dalam merawat hati dan menempa iman. Mencintai dunia pendidikan dan psikologi ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s