Posted in Uncategorized

Sepotong Pilinan Rindu

Di suatu malam, di sebuah ruang kecil di antara ribuan deret kamar lain yang penghuninya sedang sibuk dengan dirinya dalam besar ruang yang sama masing-masing. Menjadi saksi. Sudah hampir tengah malam, ditemani 2 deadline tugas yang esok pagi harus sudah rampung. Bersamaan dengan sendu murattal dan playlist nasyid yang masih merdu memutar, sebuah pesan dari WA datang “Suc, mau tahu jawaban yang sesungguhnya kenapa ana dari tadi lebih banyak diam ? sesungguhnya ana sedang mngingat-ingat momen yang telah lalu, dan kurindukan saat-saat itu. Iya memang benar ana sedang mengamati kalian, mencoba menyamakan frekuensi dengan kalian. Namun sesungguhnya dalam hati bilang ‘sungguh, ana sedang merindukan apa yang pasti akan anti rasakan suatu saat nanti’, Sebelum pulang, pas kita foto tadi, foto di mana tempat yang sama dimana 2 tahun yang lalu ana berfoto di sana dengan keluarga terdekat di asrama. Dan baru an sadari bahwa yg an sedang berfoto dengan 2 generasi setelahku.begitu cepat waktu bergulir, karena rasanya belum lama (sensor) berfoto di sana. Di tempat yang sama. Walau berfoto dengan orang yang berbeda, waktu yang berbeda, tempat yang sama, rasanya pun sama bahagianya, namun terselip rasa rindu, rindu dakwah asrama yang dulu, karena sekarang kondisinya pun sudah berbeda 😦 “

                                                                                                                                                           

Iya mbak, mungkin sekarang jiwa-jiwa kami sedang mengalami yang namanya perjalanan.. dan mbak sudah tiba di persimpangan di mana ada pilihan di sana, namun  masih terbuka ketika kita masih hendak bergandeng ria.. berpelukan dan saling mengingatkan bahwa dakwah ini takkan sia-sia.. hingga kapanpun karena Dia takkan membiarkan usaha kita terhapus begitu saja.. memang akan datang masanya, suatu waktu nanti ane juga akan merasakan seperti yang mbak rasakan.. sendu memang, itulah jalan yang Allah ciptakan untuk kita..Dia menyediakan rasa rindu agar kita merasakan  nikmat bersatu, Dia menyediakan ladang dakwah agar kita punya tempat pulangJ, “

Sangat rindu surat cinta malam itu, yang mengguyur hati-hati kami runtuh seketika. Layuh, namun saling menegarkan. Tubruk namun saling membangunkan.

Memang takkan terganti, getar-getar rindu ini masih belum tertandingi. Walau tempat ribuan ruang ini masih membisukan diri, tapi jiwa-jiwa kami takkan mati.

Rabbi, kumpulkanlah kami dalam tempatMu yang pantas. Agar kami kembali bersama mereguk lapangnya kebaikanMu. Hingga kini masih Kau jaga jiwa kami bertahan di sini 🙂

Advertisements

Author:

Muslimah. Penikmat Hijau. Sarjana Psikologi UI. Mencintai Pendidikan, Psikologi dan Pembinaan. Sederhana. Dewasa bersama dakwah, dan Merawat hati bersama Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s