Posted in Uncategorized

Di Sela Rinduku Ada Engkau

Image

 

Masihkah ?.. Selalu !

Aku berusaha menitip rindu

Pada setiap gantungan waktu

Mereka merayuku seolah tak mampu

Sendiri, tanpa kidung Rabithahmu

Ukhty, tahukah kau disela rinduku ?

 

Mungkin aku tak mengerti apa-apa

Tentang apa isi doamu

Tentang apa pekerjaanmu

Tentang berapa nilai IPmu

Tentang segala kebaikan yang sehari-hari mengisi hidupmu

Tentang isi cerita terhadap teman-teman barumu

Tentang cerita bangga prestasimu

Aku tak mengerti !

Sungguh aku tak mengerti !

Mungkin aku terlalu bebal

Dan ku hanya mampu melihatmu dari bilik rinduku

Itupun hanya bayangmu, bukan tatap nanar nyatamu

Aku masih merindu

Bagaimana pundakmu dulu menangkap kepalaku

Syahdu..

Bagaimana pelukmu dulu menangkap tubuhku

Yang basah oleh pilu..

Bagaimana dulu senyummu menyambut kesedihanku

Tersayat sembilu..

Saat aku masih kecil

Saat aku sering mengeluh tentang dakwah yang membuat lelah

Tahukah engkau ukhty, ada apa di sela rinduku ?

 

Bertemu denganmu pun aku tak mampu

Apalagi merasakan hangat dekapmu seperti dulu

Maafkan aku

Maafkan aku jika ku sombong dan tak sempat menyapamu

Jika ku angkuh tak peduli keadaanmu

Jika ku tuli tak mendengar genderang semangatmu

Jika ku buta tak melihat betapa luar biasanya dirimu

Jika ku bisu tak sempat ucapkan rindu padamu

Maafkan aku jika saat ini aku sangat merindukanmu

Sangat, sangat dan sangat ingin mendengar nasihat rabbanimu

Karena aku tahu !

Aku sangat tahu !

Mungkin aku sudah tak sebanding dengan dirimu

Keimananmu, keikhlasan yang membalut tubuhmu

Ketawadhu’an, keistiqomahan yang membungkus setiap derap langkahmu

Ukhty, tahukah engkau di sela rinduku

 

Biarkan tanganku yang bergetar

Menuliskan sajak rindu dengan mata nanar

Menyiagakan hatiku seperti radar

Menggariskan mataku sembap di atas tikar

Asalkan ku bisa sampaikan, di sela rinduku ada engkau ukhty J

 

Ukhti, uhibbukum fillah J, semoga antunna baik-baik saja di manapun kaki dan hati berpijak. Terimakasih atas segala pengajaran, pengajaran untuk mencintai dakwah yang sangat indah. Dakwah yang mampu menggadaikan segala kepunyaan diri, walau jalan kita berbeda, ruang dan waktu kita terpisah ana berharap anti tetap tegar dan menghadapi semua dengan senyuman. J ana tak menginginkan antunna selalu mengingat ana, bukan ! ana berharap apa yang telah kita lalui dulu menjadi sepotong episode hidup yang bisa kita gadaikan di akhirat kelak. Karena di sela rinduku ada wajahmu yang terpatri dalam runtut rabithahku ukhty J semoga kita istiqomah di jalan yang indah ini. Meski jalan antunna mungkin jauh lebih terjal di sana, walaupun ana sendiri, masih tetap bisa tersenyum melihat antunna saudaraku yang paling luar biasa J

 

Kediri, 7 Juni 2012 12:53

 

Advertisements

Author:

Muslimah. Penikmat Hijau. Sarjana Psikologi UI. Mencintai Pendidikan, Psikologi dan Pembinaan. Sederhana. Dewasa bersama dakwah, dan Merawat hati bersama Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s