Posted in Cerita-ku dan -kita

Kepulangan Cinta

Laa yukallifullahu nafsan illa wus’ahaa, lahaa maa kasabat wa’alaiha maktasabat.. Rabbanaa laa tu’ahidzna in nasiina aw akhtho’na……………………………………………………………………………….

Ayat itulah yang sering ku baca setiap sholat, berharap menjadi penumbuh keyakinan bahwa Allah masih mau mendekat dan cintaku masih ditangkap dengan erat. Belakangan janji Allah ini senantiasa mengukung keyakinanku menghempas rindu, bait-bait perjanjian Rabbi takkan tergusur dalam ruang tuah yang baku. Aku takkan pernah terpaksa merayu, karena memang benar seyogyanya hatiku membatu. Membiarkan mataku berbohong tawa pada mereka dan mengikhlaskan hatiku tunduk tangis dalam dekap Rabbku.

***

Sabar yah, menangislah !”, tiba-tiba dengan lembut sebuah gerakan tangan mengelus pundakku, tepat berada di samping shaf tempat ku sujud, sangat terasa. Dadaku gemetar, seakan runtuh dan hendak meraih tangan itu.

“Iya”, aku masih melanjutkan rindu yang menaklukkan perih, ku biarkan ia sedikit menunggu karena memang ia yang rajin menungguiku, dalam keadaan seperti ini. Aku berusaha tunjukkan tegar membalas wajah tulus yang dipersuntingkannya. Namun aku gagal, aku gagal mengucap dan hanya bisa menepis tawa yang sulit dieja karena tertahan air mata.

Zi, aku jadi ingin ikut menangis”

Aku hanya membalas senyum semampuku, membiarkan ia berlalu dalam ufuk iman, mengambil tas dan sebongkah cinta dari sekret Salam, sebuah lembaga dakwah kampus di tempat kami kuliah kini. Dari Masjid Ukhuwah Islamiyah atau biasa disebut MUI ini kami membagi, dia kembali dan membersamai menuju Asrama, tempat kami dulu mulai bersaudara dan memberi arti dari setiap mimpi yang dieja rapi. Dia, Tian seorang gadis berdarah Lombok yang selalu bersinar di hati memberi cahaya, saat jiwa gersang tertiup sendiri seperti tadi. Dia yag selalu memaksa untuk membantuku, hanya karena sebulan yang lalu aku yang mengantarkannya bolak-balik ke rumah sakit hingga menungguinya semalaman di sana dan melihat air matanya sudah tak bisa ditawar untuk tumpah. Seperti orang mau melahirkan, tak menahan akan sakit yang bersarang dalam perutnya. Bahkan air mataku pun tak sanggup runtuh di depannya.

***

Tadi, di saat yang lain berkata : “Ayo Zia, Kultum !”. Dengan nada menagih, seorang teman satu kelompok ngajiku memintaku untuk kultum.

“Hah, aku harus kultum apa ?”, aku terpaksa mengelak karena otakku masih buntu, buntu oleh masalah sejak 3 hari yang lalu menjeratku. Mereka tidak ada yang tahu tentang masalahku. Meskipun mereka tadi tahu aku baru saja mengobrol dengan murabbiahku membicarakan hal yang terjadi 3 hari yang lalu, yang menyedot segala energiku. Hilang tak bersisa jika tak hanya dengan tambahan nikmat yang diberikanNya.

Ya kultum apa aja, kamu udah kultum belom ? Kalo belom ya berarti sekarang !”. Aku hanya bisa menghela nafas sembari menahan bambu air mata runtuh, bukan karena aku tak mau kultum, di saat aku sedang mengumpulkan kekuatanku di majlis ilmu ini aku masih terpukul. Aku tak bisa berkata dan hanya air mata yang tumpah. Bagaimana tidak, aku harus mencari jalan keluar untuk mengembalikan uang jutaan rupiah milik orang yang musnah karena penipuan. Astaghfirullahal’adziim.. dalam waktu 1 bulan ke depan bahkan aku harus melunasi setengahnya.

Aku hanya tertegun sejenak, kemudian memperhatikan dan kemudian melamun lagi. Memutar nadi mencari penguatan diri  siapa yang bisa memberi inspirasi, dengan apa aku bisa keluar dari cobaan ini.

***

Setiap hari kerjaku hanya berlalu, setiap selesai kuliah selalu mencari kesempatan agar bisa tersungkur  ke masjid, menghindar dari banyak orang dan menyendiri bersatu dalam dekapan Allah. Sendiri. Merasakan kenikmatan berdekat-dekatan denganNya.

Biarkan aku sendiri yang menyuguhkan kepedihan dan ketergantugan padaNya, kepada mereka manusia biarlah tahu aku berusaha tegar walau sesungguhnya aku sedang berusaha memulangkan cintaku.

Setiap hari, malam-malamku menjadi makin hidup. Bertarung dengan desah tangis yang tak bisa kusembunyikan. Hanya kepadaNya ragaku menawar pada jasad yang setiap hari ditodong rasa malu. Sujud-sujudku menjadi makin basah. Bukan karena sisa air wudlu, namun keringat berubah rasa jatuh dari mata. Sajadah menjadi makin tipis karena ku tarik-tarik dengan keras karena geram. Biarlah, biarlah ia kembali. Cinta.. ini memang sudah saatnya.

***

Berkali-kali Tian mengingatkanku untuk sabar, ikhlas dan tetap menjaga emosi menjelang UTS semester 3 ini. Dengan penuh kesabaran dan perhatiannya ia selalu menungguiku keluar kelas dan walau sekedar mengajak berjalan, menjaga agar emosiku tak lagi melonjak dan merusak segalanya.

Perlahan hatiku kian lega, mulai menerima dan semakin lama jalan keluar yang dijanjikanNya membukakan mata. Uang beasiswaku pun keluar dan dapat melunasi setengah hutangku yang harus ku bayar dalam waktu sebulan. Alhamdulillah belum ada sebulan aku mampu melunasi, sedang sebelumnya aku harus membayar dengan tatih cicil seratus demi seratus. Allahu akbar !!

Semesta pun bertasbih, meski belum sempurna rampung minimal aku bisa tidur sedikit lega tanpa harus ragu untuk memejamkan mata karena harus berpikir adanya hari esok dan aku tak punya apa-apa jika saatnya tagihan datang. Maha besar Allah. Tawaran mengajar pun beberapa datang, menjadi pintu bantuan untuk hidup sehari-hariku karena tak mungkin lagi ku ceritakan masalah ini kepada orangtuaku. Sudah cukup tanggungan yang mereka rasakan atasku, biarkan mereka tahu aku baik-baik saja.

Fabiayyi aalaai rabbikuma tukadzzibaan.. J

Biar cintaku pulang memang pada pemilik abadinya, sedangkan kini tetap menanti kenikmatan-kenimkatan selanjutnya. karena setiap masalah bukan hanya sebagai kesempatan untuk mengeluh namun ia adalah kesempatan untuk memulangkan cinta yang memang di sana ia seharusnya dikembalikan.

Advertisements

Author:

Muslimah. Penikmat Hijau. Sarjana Psikologi UI. Mencintai Pendidikan, Psikologi dan Pembinaan. Sederhana. Dewasa bersama dakwah, dan Merawat hati bersama Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s